Wednesday, June 11, 2008

Kamar untuk ABG Pencinta Olahraga

Anak usia 9—12 tahun lazimnya sedang gandrung pada hal yang berbau olahraga. Mereka kerap mengidolakan bintang olahraga, mengoleksi poster, stiker, dan segala macam yang menyangkut olahraga favoritnya.

Nah, kecintaannya pada olahraga dapat diwadahi dengan menciptakan kamar yang sporty. Menempel poster atau menghadirkan pernak-pernik olahraga di kamar adalah salah satu contohnya. Atau bisa juga dengan cara membuat mural di dinding dengan gambar cabang olahraga yang diminatinya. Berbeda dengan kamar sebelumnya, mural pada kamar ini memenuhi salah satu dinding kamar.

Yang perlu diingat, mural seperti ini bisa membuat kamar terlihat ramai dan padat. Karenanya, jangan gunakan warna yang gelap untuk dinding lainnya. Kalaupun ingin menggunakan warna gelap, gunakan hanya sebagai aksen.

Kamar Cewek Nggak Harus Pink

Kamar yang dirancang untuk anak perempuan ini didominasi hijau pupus. Warna ini diterapkan di berbagai elemen, seperti dinding dan seprai. Agar lebih menarik, salah satu dinding diberi wallpaper bermotif garis. Gorden pun diberi motif kotak-kotak.

Walaupun tidak mendominasi, penggunaan motif di sebuah ruangan bisa menimbulkan kesan tertentu. Motif garis vertikal membuat ruang terasa lebih tinggi. Namun jika garis-garisnya terlalu banyak dan rapat, akan membuat ruang terasa lebih sempit. Sebaliknya, motif garis horizontal akan menimbulkan kesan rileks, ruang terasa lebih luas tapi sekaligus juga membuat ruang terasa rendah. Sedangkan motif garis lengkung terlihat dinamis dan bergerak.

Jangan memadukan terlalu banyak motif karena akan membuat anak bingung dan sulit untuk beristirahat. Namun jangan juga menggunakan motif yang sama di seluruh elemen ruangan, karena hanya akan menimbulkan kesan monoton. Yang paling baik untuk kamar tidur adalah motif-motif sederhana seperti garis lurus atau bunga-bunga.

Sesuaikan juga motif dengan luas ruangan. Ruang yang sempit sebaiknya jangan menggunakan motif-motif yang berukuran besar karena akan memenuhi ruang. Sebaliknya, motif kecil di ruangan yang besar akan terlihat “hilang”.

Kamar Biru? Siapa Takut

Warna biru kadang dibilang warna sendu. Tetapi, kalau ditanya warna apa yang jadi favorit, kebanyakan ABG mungkin menjawab “biru”. Memang biru seringkali jadi warna kebangsaan mereka, terutama anak laki-laki yang tak ingin dibilang feminin.

Dari segi efek, warna biru muda bisa membuat si penghuni sejuk dan rileks. Warna biru tua seperti biru laut bisa membangkitkan imajinasi, menimbulkan perasaan tenang serta meningkatkan sensitivitas. Sedangkan warna biru muda (biru pucat) memberikan kesan ringan, tenang, dan tenteram. Karena sifat-sifatnya itu, warna biru dianggap cocok untuk diterapkan di kamar tidur anak.

Lalu, apakah semua unsur di kamar harus berwarna biru? Jika warna yang digunakan di seluruh elemen cuma satu tone warna biru (misalnya hanya biru primer atau hanya biru laut), anak akan merasa cepat bosan. Kombinasikanlah berbagai warna biru untuk mendapatkan hasil yang lebih menarik.

Contoh satu lagi hanya mengaplikasikan biru di salah satu sisi kamar. Dinding yang dipilih adalah dinding yang jadi point of interest, biasanya dinding yang ada di belakang kepala tempat tidur. Elemen-elemen lainnya seperti tempat tidur, seprai dan gorden, walaupun sedikit tetap masih memiliki unsur biru.

Formal Tetapi Nyaman

“Ruang keluarga adalah ruang tamu informal yang biasanya diletakkan di dekat dapur. Berbagai aktivitas keluarga dapat ditampung di sana, antara lain menonton TV, bercakap-cakap, makan, dan bersantai. Seringkali, ruang keluarga memiliki hubungan dengan ruang luar seperti taman atau teras.” Inilah definisi yang tertera di Wikipedia.

Kalimat pertama pada definisi tadi menegaskan bahwa ruang keluarga adalah ruang yang mesti tampil informal, tidak kaku, dan terkesan santai. Namun bagi B. J. Susilo, seorang desainer interior, ruang keluarga bisa dibuat lebih formal tapi tetap bisa mengakomodir kegiatan anggota keluarga.

Kesan formal pada ruang keluarga, bisa diciptakan dari pilihan furniturnya, seperti contoh kasus di sini. Rangka, lengan, dan sandaran sofa dibuat dari kayu dengan garis-garis tegas. Dominasi kayu pada sofa memang bisa menjadikannya terlihat kaku. Karenanya, untuk menimbulkan kesan santai, para desainer memilih sofa yang seluruhnya dilapisi upholstery dari bahan lembut.

Di balik kesan kaku, ada keuntungan memakai furnitur dari kayu. Kayu tampak alami namun mudah dibentuk tipis, sehingga furnitur jadi tampak ramping, ringan, dan tidak membuat ruang terasa penuh.

Lengkap dan Nyaman
Ruang keluarga ini biasanya digunakan untuk mengobrol, membaca, dan menikmati teh di sore hari. Kegiatan menonton TV juga bisa dilakukan jika ruangan TV di atas tidak digunakan.

Sang desainer berusaha untuk mengakomodir semua kegiatan itu, tentunya dengan tetap mengutamakan kenyamanan. “Sedikit formal bukan berarti tidak nyaman,” tukas Susilo. Untuk kegiatan mengobrol misalnya, sofa-sofa diletakkan dengan jarak yang tidak terlalu jauh sehingga suara yang dikeluarkan bisa didengar lawan bicara. Si pengguna bisa tetap duduk dengan tenang, dan tak mesti memajukan badan saat mengobrol. Jarak yang tidak terlalu jauh ini juga bisa menimbulkan interaksi yang lebih kuat di antara anggota keluarga.

Contoh lainnya adalah pada ketinggian dan lebar sofa. Dudukan sofa dibuat lebih lebar, dan kaki dibuat lebih pendek daripada sofa biasa. Menurutnya, dengan cara ini orang bisa duduk lebih santai dan nyaman. Kaki pun bisa dijulurkan ke depan atau nangkring di atas meja.

Menangkap View
Alexander Christoper (dalam buku The Timeless Way of Building) menulis, di dalam ruang keluarga atau ruang duduk, ada 2 hal yang membuat orang tetap pada tempatnya. Pertama adalah cahaya. Pada dasarnya, manusia punya keinginan dan kecenderungan untuk bergerak ke arah cahaya (photoprenic). Ini terbukti saat di dalam kegelapan manusia akan berusaha membuat lingkungannya terang.

Kedua adalah ia duduk di tempat yang nyaman. Nah, jika kedua hal ini terwujud, dijamin ia akan sangat nyaman berada di ruang keluarga dan enggan beranjak dari sana.

Hal tadi dipraktikkan oleh Susilo. Selain membuat sofa yang nyaman, ia membuat jendela untuk menangkap cahaya sebanyak-banyaknya dari luar. Jendela yang merangkap sebagai pintu ini juga bisa meloloskan pemandangan dari halaman belakang. Alhasil, ruangan terasa lebih luas, lebih terbuka, dan lebih nyaman.