Showing posts with label Perumahan. Show all posts
Showing posts with label Perumahan. Show all posts

Wednesday, July 9, 2008

Membagi Ruang dengan Sekat Kayu

Masalah terbesar rumah mungil adalah bagaimana menyediakan ruang yang lengkap, dan di mana menempatkan ruang-ruang itu, agar rumah tidak terkesan sesak. Kemudian masalah selanjutnya adalah, bagaimana membuat rumah itu terlihat indah.

Ruang Utama
Sekalipun luasnya cuma 60 m2, rumah bergaya Jawa ini sanggup menyediakan ruang-ruang utama, yaitu ruang makan, 1 ruang tidur, ruang keluarga/ruang tamu, dapur, dan 1 kamar mandi (di dalam ruang tidur).

Ruang tidur dan kamar mandi berada dalam satu ruang tertutup. Sementara ruang makan, ruang keluarga, dan dapur berada dalam satu ruang yang “menerus”. Untuk mendapatkan privasi, semua ruang ini tersembunyi di balik sekat/dinding kayu yang ada di dekat pintu utama (lihat Denah).

Sekat Kayu
Yang unik di rumah ini adalah: pembatas ruangnya banyak menggunakan sekat kayu, bukan dinding bata. Bata hanya digunakan pada dinding yang berbatasan dengan ruang luar dan kamar mandi.

Kayu ini lebih tipis dibandingkan bata (dinding bata tebalnya 15 cm, sedangkan panel kayu sekitar 5 cm). Dengan demikian sekat ini tidak “memakan” ruang terlalu banyak, dan sekaligus membuat ruang terlihat lebih indah dengan ukir-ukirannya.

Tembus Pandang
Siasat lain yang dilakukan dalam penataan rumah ini adalah membuat lubang di semua sekat. Lubang ini sebetulnya adalah jendela, yang dibeli sekalian dengan teralisnya yang menyerupai jeruji penjara.

Dengan jendela berteralis ini, berdiri di manapun kita bisa melihat ke ruang lain. Dari foyer bisa melihat sampai ke ruang tidur, dari dapur bisa melihat sampai ke foyer. Rumah pun jadi tidak terlihat sesak.

Tuesday, July 8, 2008

Ruang Tamu Suasana Taman Kerikil

Menjamu tamu dengan suasana outdoor bisa menjadi inspirasi kreatif. Bukan hanya membawa unsur-unsur luar ke dalam ruangan, melainkan juga sudah seperti membawa replika taman kerikil ke dalam ruangan.

Tidak disangkal bahwa material kayu mampu memberikan kesan alami pada ruangan. Namun, bukan berarti hanya furnitur kayu yang dapat dipilih. Selain kayu, sebetulnya kita juga bisa menggunakan furnitur dari bahan sistetis. Misalnya, furnitur dari rotan sintetis (polyethilene). Furnitur ini juga tampil alami dan relatif lebih ringan. Kerangkanya terbuat dari aluminium. Selain itu, perawatannya lebih mudah dibandingkan dengan kayu. Cukup dilap dengan kain untuk membersihkannya dari debu.

Pada ruang ini sentuhan kayu tetap ada antara lain pada buffet dan coffee table. Keduanya sama-sama terbuat dari kayu jati. Bedanya, pada coffee table yang digunakan adalah kayu jati recycle. Agar tampilannya lebih alami dan unik, furnitur kayu sengaja tidak di-finishing.

Layaknya taman, cahaya matahari leluasa masuk ruang tamu. Cahaya masuk melalui dinding-dinding kaca sehingga ruang tamu terang dan hangat oleh sinar matahari yang berlimpah pada siang hari. Dinding kaca juga memperlihatkan pemandangan taman di samping rumah. Pemandangan ini semakin menguatkan suasana "taman" dalam ruangan.

Proses "membawa" taman ke dalam ruang tamu semakin lengkap. Dengan menambahkan beberapa pohon. Pepohonan bisa menggunakan yang asli. Tetapi, menggunakan yang artifisial pun tak masalah. Yang penting memberikan nuansa hijau.

Tidak lupa, kerikil-kerikil koral disebarkan di permukaan lantai. Penyebarannya harus diatur agar dapat menutupi seluruh permukaan lantai. Bisa gunakan warna kerikil yang berbeda-beda dalam satu ruangan. Tergantung selera. Yang penting penataannya harus sesuai dengan gaya dan penataan ruangan. Supaya ruangan semakin "hidup", tambahkan aksesori berupa bantal warna-warni.

Wednesday, July 2, 2008

Indahnya Puzzle dari Batu Bali

Menyusun puzzle menjadi satu kesatuan utuh sangat menarik. Apalagi setelah susunan kepingan-kepingan itu tampil menghias dinding rumah. Puas rasanya!


Konsep yang sama bisa kita lakukan pada bagian luar dinding rumah. Ya, mungkin bedanya, kita tak menyusun puzzle dari kertas karton, tapi dari batu bali. Tengok dinding luar rumah ini. Sebagian dinding dilapisi batu Bali, yang disusun ibarat puzzle tadi.

Batu-batu tersebut memiliki bentuk dan ukuran berbeda-beda. Susunannya agak berantakan namun memberi kesan indah. Batu dengan bentuk yang berbeda memunculkan tekstur. Ketidakteraturannya memberi efek dinding yang natural dan dinamis. Sedangkan warna batu yang tidak sama memperlihatkan irama permainan warna. Bongkahan-bongkahan batu Bali akan lebih timbul dan "berwarna" jika mendapat sorotan lampu. Susunannya yang tidak rapi malahan mengesankan permainan irama yang menarik. Tidak kaku dan tidak monoton! Keren, ya.

Bagaimana Membuat
1. Persiapkan dinding. Dinding merupakan bata pasangan 1/2 atau 1 bata polos tanpa plester semen. Bersihkan dinding. Semprot dengan air agar sedikit lembap.
2. Persiapkan batu Bali. Bentuklah batu sesuai dengan ukuran yang diinginkan Gunakan palu atau kampak untuk membentuk sudut. Jika ingin pekerjaan sedikit lebih ringan, pesanlah batu sesuai ukuran dan bentuk yang diinginkan.
3. Siapkan adukan semen-pasir. Dalam adukan itu, perbanyak jumlah semen agar adukan dapat menahan berat batu yang menempel ke dinding nantinya.
4. Tempelkan batu pada dinding. Susun batu satu per satu dan lekatkan menggunakan adukan semen. Lakukan penempelan mulai dari dinding bagian bawah secara horizontal, menerus ke bagian atas.
5. Lakukan finishing. Setelah pemasangan selesai dan semen mengering, bersihkan permukaan batu dari debu dan kotoran semen. Jika ingin, Anda dapat menambahkan coating pada permukaan batu. Proses ini untuk mencegah batu berlumut.

Rombak Rumah agar Anak Bebas Bermain

Rumah mungil akan terasa cukup nyaman bila Anda hanya seorang diri atau berdua menempati rumah tersebut. Namun rumah mungil akan mulai terasa sumpek saat anak-anak Anda mulai tumbuh dan memerlukan tempat yang cukup luas untuknya beraktivitas.

Inilah yang dirasakan pasangan Jhony Heryanto dan Maria Fransisca. Mereka merasa harus memperluas rumahnya karena anak pertamanya sudah mulai bisa berjalan dan memerlukan tempat bermain yang lebih luas dari biasanya. Rumah yang luas asalnya 36 m2 ini akhirnya dikembangkan sehingga menjadi 150 m2 demi sang anak. Selain karena anaknya sudah mulai tumbuh, Maria juga senang membeli barang dari berbagai tempat, dan perlu dibuatkan ruangan yang lebih luas dari yang sudah ada.

Renovasi untuk Anak
“Tujuan utama kami merenovasi adalah untuk anak, karena saat dia bermain mentok ke sana-sini. Kami kasihan melihatnya, makanya kami putuskan untuk merenovasi rumah kami,” kata Maria ketika ditanya tujuan utama perombakan rumah mereka itu. Ya, memang anak adalah segalanya, sehingga apapun itu, bila menyangkut kebutuhan sang anak sebisa mungkin dipenuhi.

Rumah mereka yang terletak di Perumahan Jatijajar Estate, Simpang Depok ini, memang berukuran mungil. Namun mereka beruntung mendapatkan tanah dengan luas yang jauh lebih besar dibandingkan luas rumahnya, yaitu 180 m2. Karena itu, mereka pun cukup leluasa saat mendesain rumahnya. Tanah yang memanjang ke belakang oleh mereka ditambahkan beberapa ruangan yang dirasa perlu, seperti ruang keluarga, kamar tidur tambahan, ruang makan, dan dapur. Di belakang rumah tetap disisakan sebagian kecil tanah, untuk dibuat menjadi taman. Di bagian samping rumah pun dibuat sebuah taman kecil yang diisi kolam. Taman ini juga berfungsi untuk memasukkan sinar matahari dan udara ke dalam rumah.

Renovasi yang dimulai bulan Januari 2006 lalu, selesai cukup cepat, yaitu bulan Maret 2006. Selama rumah mereka direnovasi, keluarga muda ini terpaksa mengungsi ke rumah orang tua di daerah Taman Mini. Dengan perluasan ruang yang cukup banyak tersebut, otomatis sang anak bisa mendapat sebuah kamar tidur sendiri yang terletak di sebelah ruang tamu, juga ruang bermain sang anak bisa lebih banyak lagi.

Tak Puas dengan Pilihan Kontraktor
Awalnya, pasangan ini ingin menggunakan jasa kontraktor yang ditawarkan pada mereka lewat temannya. Namun mereka tak puas dengan kotraktor tersebut. Pasalnya, harga yang ditawarkan jauh melebihi dana renovasi mereka. Selain itu, material bangunan yang dipilih oleh sang kontraktor pun tidak sesuai dengan keinginan mereka. Mereka pun hanya menggunakan jasa sang kontraktor untuk membuat sebuah gambar kerja dari gambaran kasar yang dibuat oleh Jhony. Untuk pembangunan, mereka menyerahkannya pada tukang.

Maria dan Jhony berburu sendiri ke toko-toko bangunan untuk membeli material yang sesuai dengan keinginan mereka, baik dari segi kualitas maupun model dan warna. Alhasil, biaya renovasi dapat ditekan hingga menjadi kurang lebih Rp 100 juta. Dengan biaya sejumlah itu, pasangan ini sudah mendapatkan material yang berkualitas bagus dan juga jasa tukang, yang berjumlah 8 orang.

Ganti Tahun, Ganti Warna
Dinding depan rumah mereka yang sebelumnya berwarna hijau tua, diubah menjadi warna terakota. Perubahan warna ini berdasarkan keinginan sang ibu rumah tangga, yang merasa bosan dengan warna rumah mereka. “Sekalian renovasi, maka saya sekaligus mengubah warna tampak depan bangunan. Lagi pula, kan ganti tahun, ganti warna juga, dong,” ujar Maria. “Namun sebenarnya saya ingin yang lebih ke warna bata, tapi hasil dari cat yang saya beli jadinya lebih ke warna coklat,” tambah Maria dengan nada agak kecewa.

Untuk interior rumah, Maria memutuskan untuk menggunakan warna kuning, sesuai dengan sofa yang sudah dimiliki olehnya. Selain itu, warna ini dipilih juga agar sesuai dengan pernak-pernik bunga matahari yang merupakan kegemarannya.

Tuesday, July 1, 2008

Ke Mana Membuang Limbah Detergen dan Limbah Mandi?

Pada tahun 1977, saat Jakarta dipimpin Ali Sadikin, pabrik-pabrik detergen gulung tikar dan mengalihkan dagangannya ke luar Jakarta. Ini karena ada surat keputusan gubernur yang melarang penggunaan detergen keras, yakni detergen yang mengandung fosfat dengan kadar tinggi.

Aturan ini diberlakukan karena pada masa itu mulai banyak rumah tangga yang membuang sisa limbahnya ke sungai. Akibatnya, sungai banyak mengandung fosfat yang dapat membuat fitoplankton dan mikroorganisme tumbuh subur di air. Banyaknya kedua makhluk tersebut membuat kandungan oksigen di dalam air sungai berkurang. Pada akhirnya, makhluk hidup air seperti ikan tidak akan bisa bertahan hidup.

"Greywater" dan "Blackwater"
Selain sisa detergen, rumah tangga juga mengasilkan limbah dari dapur dan limbah bekas mandi. Ketiga limbah ini dikenal dengan nama greywater atau limbah nonkakus. Rumah tangga juga menghasilkan limbah kotoran manusia, yang dikenal dengan blackwater. Beberapa ahli sanitasi menambahkan satu kategori lagi untuk limbah tetesan AC dan kulkas sebagai clearwater. Dalam kehidupan sehari-hari, clearwater umumnya tidak berjumlah banyak, terutama dari kulkas, sehingga sulit diolah untuk dimanfaatkan kembali. Tetesan AC jumlahnya sedikit lebih banyak dan bila ditampung dalam wadah dapat langsung digunakan untuk keperluan bersih-bersih, misalnya cuci piring atau pakaian.

Umumnya, orang membuang limbah greywater langsung ke selokan yang ada di depan rumah, tanpa diolah terlebih dahulu. Akibatnya, sungai—yang menjadi tempat bermuaranya selokan—tercemar; warnanya menjadi coklat dan mengeluarkan bau busuk. Selain bisa menyebabkan ikan-ikan mati, zat-zat polutan yang terkandung di dalam limbah juga bisa menjadi sumber penyakit, seperti kolera, disentri, dan berbagai penyakit lain. Coba tengok pengalaman di kota London tahun 1848 dan 1853. Kala itu terjadi wabah kolera yang menewaskan 10.000 penduduk di sekitar Sungai Themes. Usut punya usut, ternyata wabah itu disebabkan Sungai Themes tercemar limbah rumah tangga.

Mesti diolah
Berbeda dengan blackwater, greywater tidak dapat dibuang ke septic tank karena kandungan detergen dapat membunuh bakteri pengurai yang dibutuhkan septic tank. Karena itu, diperlukan pengolahan khusus yang dapat menetralisasi kandungan detergen dan juga menangkap lemak.

Cara yang paling sederhana mengatasi pencemaran greywater adalah dengan menanami selokan dengan tanaman air yang bisa menyerap zat pencemar. Tanaman yang bisa digunakan, antara lain jaringao, Pontederia cordata (bunga ungu), lidi air, futoy ruas, Thypa angustifolia (bunga coklat), melati air, dan lili air. Cara ini sangat mudah, tapi hanya bisa menyerap sedikit zat pencemar dan tak bisa menyaring lemak dan sampah hasil dapur yang ikut terbuang ke selokan.

Cara yang lebih efektif adalah membuat instalasi pengolahan yang sering disebut dengan sistem pengolahan air limbah (SPAL). Caranya gampang; bahan yang dibutuhkan adalah bahan yang murah meriah sehingga rasanya tak sulit diterapkan di rumah Anda.

Instalasi SPAL terdiri dari dua bagian, yaitu bak pengumpul dan tangki resapan. Di dalam bak pengumpul terdapat ruang untuk menangkap sampah yang dilengkapi dengan kasa 1 cm persegi, ruang untuk penangkap lemak, dan ruang untuk menangkap pasir.

Tangki resapan dibuat lebih rendah dari bak pengumpul agar air dapat mengalir lancar. Di dalam tangki resapan ini terdapat arang dan batu koral yang berfungsi untuk menyaring zat-zat pencemar yang ada dalam greywater.

Cara kerja
Air bekas cucian atau bekas mandi dialirkan ke ruang penangkap sampah yang telah dilengkapi dengan saringan di bagian dasarnya. Sampah akan tersaring dan air akan mengalir masuk ke ruang di bawahnya. Jika air mengandung pasir, pasir akan mengendap di dasar ruang ini, sedangkan lapisan minyak—karena berat jenisnya lebih ringan—akan mengambang di ruang penangkap lemak.

Air yang telah bebas dari pasir, sampah, dan lemak akan mengalir ke pipa yang berada di tengah-tengah tangki resapan. Bagian bawah pipa tersebut diberi lubang sehingga air akan keluar dari bagian bawah. Sebelum air menuju ke saluran pembuangan, air akan melewati penyaring berupa batu koral dan batok kelapa.

Beberapa kompleks perumahan—seperti Lippo Karawaci—dan hampir semua apartemen telah memiliki instalasi pengolah limbah greywater yang canggih dan modern. Greywater yang telah diolah akan digunakan lagi untuk menyiram tanaman, mengguyur kloset, dan untuk mencuci mobil. Di Singapura dan negara-negara maju, greywater bahkan diolah lagi menjadi air minum.

Monday, June 30, 2008

Berburu Properti Cirebon

Seorang pekerja tampak sibuk menyelesaikan pembangunan sebuah rumah tipe 72 di kawasan Tuparev, perbatasan Kota dan Kabupaten Cirebon. Pembangunan rumah tersebut sudah 70 persen dengan menyisakan pengerjaan bagian langit-langit, pengecatan, dan penyambungan aliran listrik.

Pembangunan perumahan di Kota dan Kabupaten Cirebon makin menggeliat. Hal itu terlihat mulai dari pusat kota yang memanfaatkan lahan sempit dengan sistem pembangunan kluster dan embel-embel regency atau residence hingga kawasan bukit dan persawahan yang menjanjikan panorama alam nan asri dan sejuk.

Tipenya pun beragam, mulai dari rumah mewah dua lantai berdesain mediterania dalam satu kompleks kecil berisi 10-20 unit sampai rumah tipe 21 dan 36 bergaya minimalis yang berderet di pinggiran kota. Harga yang ditawarkan bervariasi, yakni Rp 50 juta-Rp 80 juta untuk rumah sederhana serta Rp 200 juta-Rp 400 juta untuk rumah dengan luas tanah di atas 150 meter persegi.

"Mau dibuat apa saja modelnya bisa, terserah pembeli. Harga bangun rumahnya Rp 2 juta per meter persegi, sedangkan harga tanahnya Rp 600.000 per meter persegi," ujar Arief, salah seorang pengembang yang sedang membangun rumah di daerah Tuparev, Kamis (17/4).

Sudah menjadi rahasia umum, lokasi rumah adalah penentu segalanya. Menurut Kepala Ray White Kota Cirebon Didi B Suhardi, harga rumah di lokasi strategis atau dekat pusat kota lebih mahal. Contohnya adalah daerah di Jalan dr Cipto serta perbatasan kota dan kabupaten ke arah Bandung, seperti Tuparev dan Plered. Lokasi di Ciperna, perbatasan Kabupaten Cirebon dan Kabupaten Kuningan, pun termasuk diincar konsumen.

Ratih Puspita Dewi, Marketing Pengembang Ciremai Estate dari PT Grage Abadi, menuturkan, harga adalah hal pertama yang dilihat pembeli. Makin murah harga, peminatnya akan mengantre. Namun, rumah seharga di atas Rp 100 juta tetap diminati. Pembeli umumnya ingin berinvestasi atau memiliki rumah untuk menikmati liburan.

Oleh karena itu, rumah yang dibangun harus memberikan fasilitas dan kenyamanan lebih bagi penghuninya. Ciremai Estate, misalnya, menawarkan lanskap Gunung Ciremai, kesejukan udara yang jauh dari polusi udara dan kebisingan kota, serta keamanan dengan sistem jalan keluar satu pintu. Lebih-lebih, lokasinya dekat dengan sejumlah obyek wisata di Kuningan.

"Yang kami tawarkan adalah tempat tinggal yang berkonsep resor sehingga 90 persen rumah dibeli untuk investasi dan liburan. Hanya 10 persen untuk tempat tinggal," kata Ratih.

Daya beli
Menurut Surya Wijaya, Direktur Utama PT Indojaya Pan Pratama, kendala penjualan properti di Cirebon adalah daya beli masyarakat setempat yang cenderung lemah. Apalagi, harga rumah selalu naik 10-30 persen per tahun. Sebaliknya, kenaikan upah pekerja hanya sekitar 10 persen per tahun. Belum lagi, harga tanah dan bahan bangunan seperti besi baja, kayu, dan semen selalu meningkat. "Daya beli masyarakat Cirebon ini masih lemah karena faktor penghasilan yang kecil," kata Surya.

Dedi Osilajaya dari Bagian General Affair PT Griya Permata Indah juga mengeluhkan hal serupa. Pengembang dari Taman Kalijaga Permai ini mengakui, harga bahan bangunan menjadi faktor utama dalam membangun rumah murah. "Harga semen Rp 40.000 per zak dan tulangan besi berkisar Rp 30.000-Rp 40.000 untuk ukuran 8 milimeter membuat kami harus benar-benar berhitung dalam membangun rumah dengan harga terjangkau," ujar Dedi.

Meskipun demikian, Dedi menyatakan harga pasaran perumahannya tergolong murah karena masih mendapatkan subsidi dari pemerintah. Dengan harga Rp 62,5 juta dan Rp 70,25 juta per unit, konsumen masih bisa memperoleh rumah tipe 30 dan luas tanah 70 meter persegi atau 84 meter persegi di tengah perumahan yang sudah jadi di Kota Cirebon.

Kemudahan lain ialah pinjaman uang muka dari PT Jamsostek bagi karyawan swasta atau Bapertarum bagi pegawai negeri sipil. Namun, sebagai kota niaga terbesar di Jawa Barat, Cirebon tetap menjanjikan bagi bisnis properti. Banyak perusahaan membuka kantor cabang di wilayah ini sehingga membutuhkan kantor untuk kegiatan operasional dan rumah bagi pegawainya.

Pertumbuhan pendatang yang masuk dan bekerja di Cirebon merupakan peluang pasar properti. "Porsinya, 40 persen konsumen properti di Cirebon adalah orang-orang luar Cirebon. Sisanya adalah konsumen lokal yang membutuhkan rumah baru," papar Dedi.

Biaya tinggi
Sejumlah konsumen mengatakan, untuk membeli rumah di Cirebon tersedia banyak pilihan yang disesuaikan dengan dana. Akan tetapi, ada biaya tidak terduga dengan jumlah begitu besar yang memberatkan pembeli. Jatmiko, karyawan perusahaan asing, mengeluhkan tingginya biaya notaris dan KPR yang dibebankan kepada konsumen.

Untuk membeli rumah pertamanya bertipe 60 dengan luas tanah 135 meter persegi, ia harus menambah Rp 24 juta. Padahal, dirinya masih harus membayar uang muka. "Kami ingin membeli rumah dengan mencicil karena tak ada biaya, tetapi justru dibebani biaya tinggi yang harus dibayar lunas saat akad kredit," katanya. Ginawati, pengajar di perguruan tinggi negeri di Cirebon, juga kaget dengan beban biaya pembelian rumah yang begitu besar. Dia berharap ada solusi sehingga bisnis properti tetap menggeliat.

Sunday, June 29, 2008

Meninggikan Atap Agar Tak Bocor Lagi

Hal ini dialami oleh pasangan Bambang Cahyanto dan Diana Sri Utari. Rumah yang berdiri di atas lahan seluas 128 m2 ini mempunyai ruang jemur di lantai 2, yang letaknya ada di bagian belakang rumah. Dak lantai itu berhimpitan dengan atap rumah sehingga aliran air hujan dari atap pasti akan tertampung dulu di dak lantai, baru kemudian masuk ke dalam saluran pembuangan.

Agaknya tidak semua air hujan masuk ke saluran pembuangan, tetapi ada yang merembes ke dalam pori dak lantai. Alhasil, air hujan masuk ke dalam rumah dan meninggalkan bekas noda pada dinding.

Karena tidak tahan dengan kondisi seperti ini, Bambang yang rumahnya pernah diliput oleh Tabloid RUMAH di edisi 15-I kemudian berencana merenovasi rumahnya. Ia tidak ingin memperbaiki kondisi dinding dan dak lantainya saja tetapi juga ingin merombak sebagian rumahnya agar terbebas dari bocor dan rumah menjadi lega.

Ruang Jemur Jadi Kamar
Bentuk renovasi yang dilakukan oleh Bambang adalah dengan membongkar atap rumahnya, kecuali atap di atas kamar tidur. Atap yang baru kemudian dibuat lebih tinggi dari atap semula dengan ketinggian 5 m dari plafon lama. Atap dibuat sedemikian rupa sehingga atap yang baru bisa menaungi ruang jemur di belakang rumah. Dengan demikian ruang jemur yang menjadi penyebab utama kebocoran tertutup oleh atap rumah.

Karena tertutup oleh atap, dak lantai tersebut diubah fungsinya oleh Bambang menjadi kamar tidur. Sedangkan ruang jemur dipindah ke dekat ruang tangga. Yang menarik, salah satu jendela kamar tidur ini dibuat dengan membuat lubang berukuran 1 m x 0,2 m sebanyak empat buah. Bila melongok ke arah luar jendela, terlihat ruang yang ada di bawah seperti ruang keluarga, ruang tamu, dan dapur.

Sedangkan jendela lain di kamar tidur ini menghadap ke ruang tangga, hanya saja jendela ini bisa dibuka-tutup. Karena jarak antara jendela dan ruang tangga sempit maka Bambang membuat jendela dengan engsel di bagian bawah.

Alasan lain kenapa atap yang baru dibuat lebih tinggi, tidak lain agar ruangan tidak terasa panas. “Dengan kondisi daerah Bekasi yang panas, sebisa mungkin kita harus mengakali supaya rumah tidak terasa panas. Atap dan plafon yang tinggi akan memudahkan sirkulasi udara keluar masuk,” ujar Bambang yang gemar memburu furnitur bekas ini.

Sempat Terkena Banjir
Umumnya, pemilik rumah yang melakukan renovasi—terutama renovasi atap—akan meninggalkan rumahnya dan menyewa rumah sementara agar pelaksanaan renovasi tidak terganggu. Namun tidak demikian dengan Bambang. Selama pelaksanaan renovasi, ia bersama istri dan kedua anaknya tetap tinggal di rumah itu.

Menurut Bambang perlu metode pembongkaran atap yang tepat agar ia dan keluarganya tidak terganggu. Metode yang dilakukan Bambang adalah dengan membuat atap yang baru terlebih dulu sebelum atap yang lama dibongkar. Selain itu ia menyiapkan terpal plastik untuk mengantisipasi hujan yang datang di saat musim kemarau.

“Meski sudah menyiapkan terpal plastik dan waktu pelaksanaan renovasi dilakukan pada saat musim kemarau, tetap saja kami pernah merasakan banjir di dalam rumah lantaran hujan lebat mengguyur kota Bekasi,” terang Bambang yang melakukan renovasi dari bulan Februari 2006 hingga April 2006.

Kini setelah empat bulan menghuni rumah barunya ini, Bambang dan keluarga merasa nyaman karena rumah terasa lega dan bocor dari dak lantai tidak terjadi lagi.

Saturday, June 28, 2008

Harga Tanah Tinggi, Pengembang Memilih Daerah Pinggiran

Tingginya akumulasi kekurangan rumah di Jawa Barat yang mencapai 1,36 juta merupakan celah bisnis properti menjanjikan para pengembang. Namun, tingginya harga tanah di daerah perkotaan mendorong sejumlah pengembang untuk membangun rumah sederhana sehat (RSH) di luar Kota Bandung.

Ketua Umum Asosiasi Pengembang Perumahan Rakyat Seluruh Indonesia (Appersi) Jawa Barat Ferry Sandiyana mengatakan, penentuan harga perumahan ditentukan pada dua hal, yaitu harga tanah dan bangunan.

Harga tanah di perkotaan tinggi, padahal harga maksimal tiap RSH telah dipatok maksimal Rp 55 juta. Jika tetap di daerah kota, maka masyarakat ekonomi menengah ke bawah tidak akan mampu meraihnya, kata Ferry, Selasa (15/4) di Bandung. Menurut Ferry, harga tanah di kota Bandung saat ini mencapai sekitar Rp 75.000 atau naik sekitar Rp 25.000 dari harga tanah tahun lalu.

Sejak bulan Januari, Appersi telah membangun sekitar 8.700 unit RSH di Kabupaten Bandung. Dengan target pembangunan RSH tahun 2008 sebesar 12.000 unit, Appersi juga akan membangun RSH di Purwakarta, Kuningan, Cirebon, Sumedang, dan Bogor.

Gubernur Jawa Barat Danny Setyawan beberapa waktu lalu mengakui, pembangunan RSH di perkotaan selalu terbentur pada minimnya lahan. Karena itu, pembangunan rumah susun sederhana milik yang diharapkan menghemat lahan belum dapat terealisasi.

Subsidi pemerintah

Selain tingginya harga tanah, pengembang juga dibebani dengan naiknya harga bahan bangun an seperti besi, semen, dan batu bata juga naik. Mahalnya harga tanah memaksa pengembang untuk membangun RSH di daerah pinggiran.

Ferry menjelaskan, harga besi ukuran delapan inchi naik dari Rp 33.000 menjadi Rp 53.000 per batang, harga semen naik dari Rp 40.500 menjadi Rp 44.000 tiap zak, serta harga batu bata naik dari Rp 200 hingga Rp 330 per biji.

Untuk mengatasi hal ini, pemerintah memberikan kebijakan dengan menaikkan harga RSH dari Rp 49 juta menjadi Rp 55 juta. "Kenaikan harga ini mengurangi beban para pengembang, karena kami harus menghadapi naiknya harga pada semua segi, " ujar Ferry.

Ferry menambahkan, selain menaikkan harga perumahan, pemerintah juga memberikan subsidi bagi para pengembang maupun pembeli. Subsidi yang diberikan pada pengembang b erupa pembangunan prasarana umum, sedangkan subsidi kepada masyarakat atau pembeli diwujudkan dengan bantuan pinjaman uang muka dan penurunan suku bunga kredit.

Ferry menjelaskan, pemberian bantuan subsidi pemerintah dilaksanakan oleh dua institusi, yaitu Departemen Pekerjaan Umum dan Kementrian Negara Perumahan Rakyat.

Bantuan dari Departemen Pekerjaan Umum diberikan dalam bentuk pembangunan sarana fisik akses jalan ke lokasi perumahan dan bantuan dari Kementrian Negara Perumahan Rakyat berupa pembangunan jalan di dalam komplek perumahan serta drainase, kata Ferry. Dengan bantuan prasarana umum dari pemerintah, menurut Ferry, harga tiap unit RSH dapat ditekan sekitar Rp 1 juta hingga Rp 2 juta.

Ketua Asosiasi Marketers Developer Bandung Yuyun Yudhiana mengatakan, subsidi berupa pinjaman uang muka kepada masyarakat disalurkan tiga institusi, yaitu Badan Pertimbangan Tabungan Perumahan Pegawai Negeri Sipil (BAPERTARUM-PNS), Asabri, dan Jamsostek

Pinjaman uang muka berkisar antara Rp 7 juta sampai Rp 10 juta. Bahkan BAPERTARUM-PNS berencana akan menaikkan besara pinjaman uang muka menjadi lebih dari Rp 10 juta, tambah Yuyun.

Kebutuhan perumahan masyarakat ekonomi menengah ke bawah sangat dirasakan pula di kalangan para buruh. Menurut Ferry, pembangunan RSH khusus buruh seringkali terhambat oleh sulitnya perijinan dari pemerintah daerah. Karena itu, pemerintah perlu memberikan kemudahan perijinan di sejumlah kantong-kantong buruh, seperti di Rancaekek, Leuwigajah, dan Padalarang.

Friday, June 27, 2008

Mengakali Ruang Sempit

Di rumah ini, ruang tamu—yang ukurannya kecil—digabungkan dengan ruang makan dan dapur. Tujuannya agar ruangan tampak lebih luas karena pandangan terbuka ke semua ruang-ruang ini.

Tapi kemudian timbul masalah. Dinding yang berbatasan dengan tetangga menjadi dinding yang panjang dan membosankan. Ruangannya pun hanya kotak datar saja, tanpa adanya permainan tinggi rendah lantai. Untuk mengatasinya, dinding panjang itu diberi warna kuning kunyit, yang jauh lebih tua daripada warna dinding lainnya. Hasilnya, dinding rumah yang tadinya kosong jadi lebih segar dan berisi.

Sofa Berseberangan Warna
Di ruang tamu ini juga dapat dilihat permainan warna pada sofa. Dua buah sofa yang berbeda warna (merah dan putih) diletakkan di sana. Untuk menyatukan keduanya, di atas sofa putih diletakkan bantal berwarna merah.

Selain itu, furnitur yang ada di rumah ini terasa menyatu dengan dinding. Contohnya di ruang tidur; rak TV—yang terletak di seberang tempat tidur—dibuat menyatu dengan meja rias. Di samping tempat tidur juga bisa ditemui nakas kantilever yang dibuat bertingkat. Untuk “menyatukan” nakas dengan tempat tidur, digunakan semacam kayu lapis.

Rak-rak pajang diberi latar belakang sehingga tampak beda. Hal seperti ini diterapkan di seluruh rak pajang yang berada di rumah, mulai dari ruang tamu, kamar tidur utama sampai ke kamar tidur anak.

Kamar Anak Luas
Kamar anak dirancang dengan sangat baik. Karena ingin si anak dapat melakukan segala aktivitas di dalamnya, kamar dibuat cukup luas. Untuk mendapatkan tempat tidur yang luas di lahan yang terbatas, mau tak mau rumah harus dibuat bertingkat. Dan di lantai bawah hanya dibuat satu kamar.

Furniturnya juga dibuat tak biasa; mulai dari lemari, rak pajang, dan tempat tidur. Bahkan, di dinding samping tempat tidur diberi bantalan sehingga anak bisa bersandar di sana ketika membaca atau bermain. Anak pun akan betah di rumah.

Thursday, June 26, 2008

Penjualan RSH di Sumsel Menurun

Penjualan Rumah Sederhana Sehat (RSH) di Sumsel diperkirakan akan menurun sekitar 10 persen akibat kenaikan harga RSH dari Rp 49 juta menjadi Rp 55 juta per unit. Kenaikan harga RSH mulai diberlakukan sejak 1 April.

Ketua DPD Real Estat Indonesia (REI) Sumsel Wirawan Jatmiko, Senin (7/4) mengatakan penurunan penjualan RSH akan terjadi selama 2-3 bulan. Namun, Wirawan Jatmiko opitimistis penjualan RSH akan normal kembali karena kebutuhan perumahan tinggi.

"Tahun 2008 kami ditargetkan membangun 15.000 unit RSH. Sejak Januari sampai April sudah terbangun 5.000 unit RSH, jadi penurunan penjualan 10 persen itu sekitar 500 unit saja," kata Wirawan.

Menurut Wirawan, harga RSH yang mencapai Rp 55 juta hanya terjadi di Palembang, sedangkan di luar Palembang kenaikan harga RSH tidak sebesar di Palembang.

Wednesday, June 25, 2008

Rumah Nyaman untuk Penghuni Usia Lanjut

Ibarat bagian akhir lagu yang semakin pelan, irama hidup seseorang juga semakin melambat. Tak heran bila orang-orang lanjut usia lebih menyukai kesederhanaan dan rasa nyaman. Ekspresi ini biasanya tercermin dalam cara mereka menata rumahnya.

Mustafa Alatas (56) dan Lulu Mustafa (55), sudah lama tinggal di rumahnya di daerah Pondok Labu, Jakarta Selatan ini. Setelah ketiga anaknya menikah, sebagian tanahnya dijual dan tahun 2004 mereka membangun rumah sendiri tapi masih di pekarangan yang sama.

Rumah yang ditempati pasangan yang sudah usia lanjut ini cukup unik bila dilihat dari segi posisinya. Letaknya tersembunyi, yaitu berada di belakang bangunan lama (bangunan lamanya sekarang ditempati oleh salah satu anaknya).

Kamar Tidur Luas
Hal pertama yang langsung terlontar dari Lulu ketika ditanya apa yang diutamakan ketika membangun rumah ini adalah kamar tidurnya harus luas. “Dulu, living room yang harus luas. Sekarang sudah tua, senangnya di kamar, jadi kamar tidurnya yang harus luas,” jelas Lulu yang tampaknya senang menata interior rumah.

Kamar tidur di rumah ini memang cukup luas. Di dalamnya tertampung tempat tidur, lemari sepanjang dinding, kulkas, meja kerja berisi mesin fax dan perangkat audio, lalu ada TV, dan ada juga lemari berisi perlengkapan kosmetik. Di luar barang-barang tersebut, masih tersisa ruang luas yang dihampari karpet, yang disediakan untuk menonton TV. Karpet ini dipenuhi bantal-bantal kursi yang terlihat sangat hangat dan nyaman. Cucu-cucu pun sering berkumpul di ruang ini.

Simpel Tapi Menarik
Bentuk rumah ini sangat simpel, terdiri dari 1 ruang yang luas (memuat ruang keluarga, ruang makan, dapur), lalu ada 1 kamar tidur dan 1 ruang kerja. Ruang kerja yang sering digunakan oleh Mustafa ini berisi perangkat komputer, koleksi buku, koleksi CD, dan satu sofa tunggal untuk tempat membaca.

Sekalipun sangat simpel, ada beberapa hal menarik di rumah ini. Misalnya saja, kursi makannya berupa bangku tanpa senderan (seperti bangku warung tapi lebih pendek) yang terbuat dari kayu bergaya rastik (berpermukaan kasar). Bangku yang dibeli di daerah Kemang ini menurut Lulu, mirip bangku di kantor Mustafa dulu (Mustafa dulunya bekerja di bidang advertising).

Selain itu, di rumah ini ada banyak sekali pernak-pernik yang ditata dengan sangat apik. Di dekat pintu masuk, misalnya, terlihat botol warna-warni macam-macam bentuk yang diletakkan di atas meja konsol dan bangku kayu. Lalu di ruang keluarga juga ada satu lemari/rak antik berisi macam-macam pernak-pernik yang sebagian besar dibeli Mustafa dan Lulu di London.

Tempat Gantung Kain
Ada hal lain lagi yang menarik di sini. Kamar mandi di rumah ini posisinya berada di ruang keluarga, dengan pintu menghadap sofa. Karena kurang enak bila dari sofa mendapat “pemandangan” kamar mandi, di depan pintu kamar mandi ini diletakkan semacam sekat. Sekat ini dulunya adalah tempat menggantung kain untuk display di toko kain yang dimiliki Lulu. Karena toko kainnya sudah tidak ada, rak display ini hijrah ke rumah. Bila disampirkan kain, rak ini bisa menjalankan fungsi sebagai devider antara ruang keluarga dengan kamar mandi. Devider yang tidak terlalu menyita ruangan ini jadi terlihat unik dan “lain”.

Ruang Setengah Lingkaran
Tepat di sebelah rumah Mustafa, dibangun sebuah rumah dua lantai. Lantai 2 bangunan ini menerus ke lantai 2 rumah Mustafa, tapi tidak punya akses ke rumah Mustafa (lantai 1).

Rumah yang sedikit “aneh” karena berbentuk setengah lingkaran ini, sedianya ditempati salah seorang anak Mustafa dan Lulu. Tapi karena si anak berada di luar negeri, jadilah bangunan tersebut digunakan oleh pasangan lanjut usia ini. Lantai 1 digunakan untuk ruang terima tamu (walaupun pasangan ini jarang menerima tamu) dan lantai 2 digunakan untuk usaha Lulu yaitu berjualan pakaian batik khas Pekalongan.

Di rumah berukuran mungil inilah Mustafa dan Lulu banyak menghabiskan waktunya. Pada siang hari—seperti ketika pemotretan berlangsung—cucu-cucunya bermain-main bersama Lulu di ruang keluarga, sambil sesekali “mengganggu” Mustafa yang sedang asik berkomputer di ruang kerja. Inilah gambaran rumah para orangtua yang lebih menyukai kesederhanaan dan kenyamanan.

Tuesday, June 24, 2008

Rumah Bandar, Tinggal Nyaman di Tengah Kota

Sadarkah bahwa sebagian besar waktu Anda dalam sehari habis di jalan? Seandainya waktu tempuh dari rumah ke kantor bisa dipersingkat, akan ada waktu dan tenaga lebih untuk beraktivitas di rumah.

Menjadi pekerja eight to five (bekerja di kantor dari pukul 8 hingga pukul 5) memang tak mudah. Masalah yang timbul biasanya berkenaan dengan pengaturan waktu yang ujung-ujungnya berpengaruh pada kualitas hidup. Setelah bekerja seharian, pekerja eight to five umumnya masih harus menempuh perjalanan panjang untuk mencapai rumah yang terletak di pinggir kota. Rutinitas ini jelas melelahkan dan hanya menyisakan sedikit waktu dan tenaga untuk beraktivitas di rumah, misalnya seperti bermain dengan anak, berberes rumah, menyiapkan makan malam, atau menyalurkan hobi. Padahal, aktivitas-aktivitas di rumah ini sangat mempengaruhi kualitas hidup seseorang. Sempitnya waktu dan sedikitnya sisa tenaga untuk menyiapkan makan malam, bisa memicu pola makan tak sehat karena mengandalkan makanan sepat saji yang biasanya tinggi lemak dan rendah asupan serat. Minimnya waktu untuk bercengkrama dengan anak juga mempengaruhi pola asuh yang bisa menyebabkan buruknya hubungan orangtua dan anak. Selain itu, kesempatan untuk berolahraga atau menyalurkan hobi juga tak ada, di mana hal ini bisa memicu timbulnya stress dan penyakit degeneratif. Dilihat dari sisi manapun kondisi ini jelas tidak ideal.

Pokok dari permasalahan ini adalah waktu yang habis di perjalanan. Seandainya waktu tempuh dari rumah ke kantor bisa dipersingkat, akan ada waktu dan tenaga lebih untuk beraktivitas di rumah. Solusinya adalah mencari hunian yang lebih dekat/berada di tengah kota. Namun solusi ini tidak mudah dilakukan. Penyebabnya adalah mahalnya harga rumah yang terletak strategis di dalam kota. Atau jika rumah berharga murah, lingkungan sekitarnya kurang begitu nyaman.

Para pengembang bukannya tidak menyadari kondisi ini. Mereka bahkan mengerti, bahwa ini adalah celah untuk menciptakan pasar properti. Karenanya mulai banyak apartemen, rumah susun, atau rumah bandar alias town house di tengah kota yang ditawarkan kepada masyarakat.Opsi yang terakhir disebut, saat ini sedang naik daun dan sangat digemari oleh konsumen properti. Terbukti dengan makin banyaknya rumah bandar yang ditawarkan oleh pengembang di Jakarta plus respon yang baik dari masyarakat. Kompas bulan Mei 2006 menyebutkan, bahwa angka penjualan dan penyewaan rumah bandar rata-rata di atas 80%.

Solusi dan Investasi
Maraknya pembelian rumah bandar ternyata dilatarbelakangi oleh dua hal. Yang pertama adalah keinginan untuk “kembali berumah di dalam kota”. Alasannya jelas kepraktisan dan penghematan waktu. Selain itu, rumah bandar bisa memenuhi keinginan konsumen untuk hidup di lingkungan yang aman, tenang, eksklusif, dengan tingkat privasi yang tinggi. Lebih lagi, rumah bandar yang umumnya hanya memiliki maksimal 30 unit menawarkan fasilitas bersama yang lengkap, seperti kolam renang, pusat kebugaran, jalur untuk berlari/berjalan kaki, dan taman bermain.

Latar belakang yang kedua adalah tujuan berinvestasi. Rumah bandar yang dibeli tidak dihuni oleh pemiliknya melainkan disewakan kepada orang lain, yang umumnya adalah ekspatriat. Beberapa pengembang menuturkan, para ekspatriat menyukai rumah bandar karena relatif jauh dari hiruk-pikuk lalu lintas, keamanan terjamin, dan akses ke pusat kota cukup mudah. Alasan lain, rumah bandar selalu berada dalam lingkup yang kecil sehingga memberikan lingkungan yang eksklusif.

Menjamur di Jakarta Selatan
Menjamurnya rumah bandar terutama terjadi di daerah Jakarta Selatan. Jika berkendara ke daerah Pondok Labu, Cirendeu, atau Lebak Bulus, maka di sepanjang jalan akan terlihat banyak papan iklan yang memasarkan town house.

Menurut Tulus Santoso (Ketua Real Estat Indonesia/REI Cabang DKI), ini adalah mekanisme logis demand dan supply. Sejak jaman Belanda, Jakarta Selatan dikenal sebagai kawasan ideal untuk pemukiman. Karenanya sampai sekarang permintaan akan hunian di wilayah ini masih tinggi. Namun hal ini tidak diimbangi ketersediaan lahan. Akibatnya harga jual tanah (diikuti harga jual rumah) meningkat tajam. Banyak pengembang hanya mampu membebaskan tanah di daerah Jakarta Selatan dengan luasan kecil. Untuk memasarkan tanah dengan luasan terbatas ini dalam bentuk perumahan, diusunglah istilah “town house” sebagai label. Dari sinilah model rumah bandar mulai berkembang.

Hal senada juga diungkapkan Heru Wicaksono (Arsitek). Banyak pengembang memilih model rumah bandar untuk memasarkan tanah dengan luasan terbatas yang dimilikinya. Dengan membangun 6—10 unit rumah plus menyediakan fasilitas dan keamanan yang cukup, maka kompleks tersebut sudah bisa disebut town house. Lagipula karena kesan eksklusif yang dibawanya, perumahan dengan label town house bisa dibandrol dengan harga jual tinggi.

Pangsa Pasar Terbatas
Harga jual rumah bandar yang tinggi ini memiliki dua sisi yang bisa dicermati. Sebagian konsumen properti suka membeli rumah mahal karena ada asumsi bahwa rumah mahal pasti berkualitas bagus. Selain itu, makin mahal sebuah rumah, makin elit rumah tersebut, makin tinggi prestise yang digenggam pemiliknya.

Di sisi lain, tingginya harga jual membuat pangsa pasar rumah bandar menjadi terbatas, hanya menyasar kelompok ekonomi atas. Sementara kebutuhan akan hunian paling besar berasal dari kalangan menengah. Ini menjadi kritik bagi pihak pengembang, karena saat dicermati lebih lanjut, tidak semua rumah bandar di Jakarta terletak di kawasan yang lalu lintasnya lancar atau berada di kawasan elit.

Monday, June 23, 2008

Properti di Cirebon Terkendala Daya Beli

Pertumbuhan rumah tinggal di wilayah Cirebon dan sekitarnya sangat rendah, hanya berkisar 1.000 unit rumah per tahun. Selain tidak sebanding dengan ibu kota Jakarta, daya beli masyarakatnya juga terbilang rendah. Direktur Utama PT Indojaya Pan Pratama Surya Wijaya mengatakan, Rabu (12/3), daya beli masyarakat Cirebon sangat lemah jika dibandingkan dengan masyarakat di Bandung dan Bekasi. Itu terlihat dari pertumbuhan pembangunan rumah (rumah sederhana sehat) hanya sekitar 900-1.000 unit rumah per tahunnya.

"Rendahnya upah atau gaji yang diperoleh sebagian besar masyarakat Cirebon, tidak sebanding dengan kenaikan harga rumah dan tanah yang mencapai 30 persen. Meski ada subsidi (dari pemerintah), masih belum menutupi kekurangannya," ujar Surya.

Saat ini, upah minimum kota/kabupaten Cirebon masih di bawah Rp 700.000 per bulan, dengan upah pegawai (pemula) tertinggi hanya Rp 1,5 juta. Kenaikan upah rata-rata hanya 10 persen per tahun, sedangkan kenaikan harga rumah tinggal berkisar 10-20 persen per tahun. Rendahnya daya beli juga disebabkan banyaknya masyarakat yang lulus perguruan tinggi melanjutkan kerja di kota-kota besar, seperti Bandung dan Jakarta. Akibatnya, pasar properti untuk rumah tinggal banyak berkurang. Ditambah lagi, kata Surya, kenaikan harga bahan baku bangunan dan permasalahan klasik properti menyebabkan pasarnya tidak semeriah di Bandung dan Bekasi.

Akan tetapi, kata Kepala RayWhite Kota Cirebon Didi B Suhardi, minat properti rumah tinggal dan rumah toko untuk disewakan masih menjanjikan. Sebab, sebagai salah satu kota niaga di Jawa Barat, relatif banyak perusahaan dari Jakarta dan kota lainnya membuka cabang di Cirebon, sehingga butuh kantor operasional. Belum lagi, pertumbuhan penduduk dan masuknya pendatang ke Cirebon yang memerlukan tempat tinggal, merupakan peluang bagi pasar properti. "Porsinya, 40 persen konsumen properti di Cirebon adalah orang-orang luar Cirebon. Sisanya adalah konsumen lokal yang membutuhkan rumah baru," kata Didi.

Sunday, June 22, 2008

Townhouse: Lain di Manca, Lain di Sini

Apa definisi town house atau “Rumah Bandar”? Masyarakat umumnya memahami rumah bandar sebagai komplek perumahan kecil yang eksklusif dan berharga mahal. Benarkah demikian? Dari survey Tabloid RUMAH, kebanyakan rumah bandar yang ditawarkan di Jakarta dan sekitarnya memiliki ciri-ciri sebagai berikut.

- Lokasinya di dalam kota.
- Dalam satu komplek jumlah total unitnya hanya 10—30, dengan luas area umumnya di bawah 5000 m2.
- Bentuk rumah bertingkat (biasanya 2 atau 3 lantai).
- Struktur rumah biasanya berdiri sendiri, bukan kopel.
- Tersedia fasilitas sosial dan fasilitas umum untuk digunakan bersama.
- Sebagian besar dipasarkan dengan sistem penjualan, bukan sewa.

Ciri-ciri inilah yang membangun definisi rumah bandar di Indonesia. Definisi ini sedikit berbeda dengan pengertian town house di luar negeri. Di Eropa dan Amerika, town house didefinisikan sebagai rumah tinggal yang dibangun berderet di mana dindingnya saling menempel antar unit rumahnya (kopel). Lokasi town house umumnya di tengah kota dan si pemilik juga memiliki tanah di mana unit town house-nya berdiri. Jika status hunian dari bangunan seperti ini adalah sewa, maka namanya bukan lagi town house melainkan kondominium. Masih di luar negeri, town house adalah alternatif rumah tinggal yang murah di tengah kota, jauh dari citra ekslusif, kecuali di beberapa tempat seperti New York dan Boston yang harga tanah di perkotaannya memang sangat tinggi. Jadi bisa disimpulkan bahwa istilah town house yang dipakai di Indonesia sudah mengalami pergeseran dari makna aslinya.

Sejarah rumah bandar atau town house di Indonesia dimulai sejak era 80-an. Menurut Wijoyo Hendromartono (Arsitek), town house pertama dibangun di daerah Prapanca, Jakarta Selatan. Rumah bandar ini ditujukan bagi kalangan ekspatriat yang kebetulan memang banyak bermukim di wilayah Jakarta Selatan. Sementara menurut Tulus Santoso (Ketua REI DKI) istilah town house mulai diperkenalkan kepada masyarakat Jakarta sekitar tahun 80-an, lewat tipe rumah yang ditawarkan oleh sejumlah pengembang real estat saat itu.

Sunday, June 15, 2008

Teliti Membeli Tabung Pemadam Kebakaran

Saat membeli tabung pemadam kebakaran, perhatikan label pada tabung. Di bagian bawahnya biasanya tertulis jenis kelas, yaitu kelas A, B, atau C.

Kelas A - efektif jika digunakan untuk memadamkan api pada benda-benda sejenis kayu, kertas, dan kain.

Kelas B – lebih efektif jika digunakan untuk memadamkan api pada minyak dan cairan lain yang mudah terbakar.

Kelas C - efektif jika digunakan untuk memadamkan api yang melibatkan alat-alat elektrikal.

Jika di tabung tertulis B—C, maka berarti tabung itu efektif jika digunakan untuk memadamkan kebakaran pada cairan yang mudah terbakar dan juga pada alat-alat elektrikal. Sebenarnya ada satu kategori kelas lagi yaitu kelas D, untuk memadamkan api karena bahan metal. Tapi kelas ini jarang digunakan.

Perlu diingat, setiap jenis alat pemadam api ringan memiliki kemampuan jangkauan yang berbeda-beda. Lihat di kemasan, dan sesuaikan dengan kebutuhan Anda.

Sebaiknya, tabung pemadam (bukan kapsul) diperiksa isi dan fungsi katupnya setiap 5 tahun sekali. Jangan sampai saat harus dipergunakan, tabung tidak berfungsi.

Perhatikan juga arah angin sebelum kita mulai menyemprotkan isi tabung pemadam api ringan. Sebaiknya kita berdiri di posisi membelakangi arah angin. Gunanya, selain untuk menghindari tiupan hawa panas, juga menghindarkan media yg kita semprotkan kembali ke arah kita.

Saturday, June 14, 2008

Strategi Melindungi Rumah dari Kebakaran

Secara teori, api terbentuk jika ada ada unsur, yaitu bahan bakar, panas, dan oksigen. Oleh para ahli, ketiga unsur pembentuk api itu dinamai segitiga api. Untuk menimbulkan api, ketiga unsur itu harus ada dan berhubungan. Oleh sebab itu, apabila ingin memadamkan api, maka paling sedikit satu di antara ketiga unsur itu harus dihilangkan atau dipisahkan. Atau dengan kata lain, hubungan di antara ketiga unsur itu harus diputuskan.

Tak Semua Pakai Air
Yang paling umum digunakan untuk memadamkan api adalah air. Air yang mengguyur api akan menurunkan suhu panas. Selain itu, sebagian air yang dipergunakan untuk mengguyur akan menguap menjadi uap air. Nah, uap air inilah yang akan memisahkan api dari oksigen. Karena dua hal dari segitiga api—yaitu panas dan oksigen—tidak ada, api pun jadi padam.

Tapi, tidak semua api bisa dipadamkan dengan air. Air bisa memadamkan api yang bahan bakarnya dari kayu, kain, plastik, atau kertas. Api yang berasal dari percikan listrik tidak bisa dipadamkan dengan air. Air malah bisa menghantarkan aliran listrik sehingga api menjadi besar. Bisa jadi, si pemadam malah terkena sengatan aliran listrik. Jika terjadi kebakaran akibat aliran listrik, hal pertama yang harus dilakukan adalah memutuskan aliran listrik, setelah itu baru bisa diguyur dengan air.

Lalu, bagaimana dengan minyak tanah atau bensin? Api yang bahan bakarnya berasal dari kedua unsur itu mesti dipadamkan dengan zat kimia. Wujudnya bisa berupa busa atau karbondioksida. Menggunakan air tak akan memadamkan api karena berat jenis minyak lebih kecil dari air. Ketika diguyur air, minyak akan berada di atas air, dan tetap berhubungan dengan oksigen. Alhasil, api akan tetap menyala malah bisa makin menyebar karena air akan mengalirkan minyak ke segala arah.

Ibu-ibu kita pasti pernah mengajarkan untuk menutup api dengan karung goni basah. Ini bisa dilakukan jika api masih dalam skala kecil. Karung goni yang dibasahi akan menutup jalur masuknya oksigen sehingga api padam.

Alat Pemadam Api Ringan
Sebagai pertolongan pertama terhadap kebakaran, dinas kebakaran menganjurkan setiap rumah memiliki alat pemadam api ringan (APAR). Ada dua jenis APAR yang kini beredar di pasaran, yaitu APAR berbentuk tabung dan yang terbaru berbentuk kapsul.

Tabung pemadam (sering disebut fire extinguisher) adalah APAR yang paling terkenal. Yang paling umum dipakai adalah tabung yang berisi karbondioksida (CO2). Begitu CO2 disemprotkan, akan memenuhi udara. Karena berat jenisnya lebih besar dari oksigen, ia akan berada di bawah dan menutupi hubungan api dengan oksigen. Api pun padam.

Selain berisi CO2, ada tabung pemadam yang berisi gas halon atau dry chemical (berisi sodium bikarbonat atau potasium bikarbonat). Dry chemical dinilai lebih cepat memadamkan api karena langsung melapisi api dengan bubuk. Namun, ia akan meninggalkan residu yang bisa merusak barang-barang elektronik.

Bentuk Kapsul
Sekarang ini ada teknologi terbaru untuk APAR. Alat yang diberi nama Bonpet Inno ini berbentuk kapsul kaca berisi cairan kimia, yang dapat memadamkan api pada media kayu, kertas, tekstil, plastik, linen, karet, dan seluloid.

Cara kerja kapsul pemadam kebakaran ini adalah menurunkan suhu dan menutup jalan masuk oksigen. Ketika terjadi kebakaran, kapsul dapat dilemparkan ke titik api atau dicampurkan ke dalam air, dan akan bekerja pada jangkauan lebih kurang 7-10 meter. Saat temperatur sekitar 85-90 derajat Celcius, kapsul akan pecah secara otomatis.

Friday, June 13, 2008

Rombak Rumah agar Anak Bebas Bermain

Rumah mungil akan terasa cukup nyaman bila Anda hanya seorang diri atau berdua menempati rumah tersebut. Namun rumah mungil akan mulai terasa sumpek saat anak-anak Anda mulai tumbuh dan memerlukan tempat yang cukup luas untuknya beraktivitas.

Inilah yang dirasakan pasangan Jhony Heryanto dan Maria Fransisca. Mereka merasa harus memperluas rumahnya karena anak pertamanya sudah mulai bisa berjalan dan memerlukan tempat bermain yang lebih luas dari biasanya. Rumah yang luas asalnya 36 m2 ini akhirnya dikembangkan sehingga menjadi 150 m2 demi sang anak. Selain karena anaknya sudah mulai tumbuh, Maria juga senang membeli barang dari berbagai tempat, dan perlu dibuatkan ruangan yang lebih luas dari yang sudah ada.

Renovasi untuk Anak
“Tujuan utama kami merenovasi adalah untuk anak, karena saat dia bermain mentok ke sana-sini. Kami kasihan melihatnya, makanya kami putuskan untuk merenovasi rumah kami,” kata Maria ketika ditanya tujuan utama perombakan rumah mereka itu. Ya, memang anak adalah segalanya, sehingga apapun itu, bila menyangkut kebutuhan sang anak sebisa mungkin dipenuhi.

Rumah mereka yang terletak di Perumahan Jatijajar Estate, Simpang Depok ini, memang berukuran mungil. Namun mereka beruntung mendapatkan tanah dengan luas yang jauh lebih besar dibandingkan luas rumahnya, yaitu 180 m2. Karena itu, mereka pun cukup leluasa saat mendesain rumahnya. Tanah yang memanjang ke belakang oleh mereka ditambahkan beberapa ruangan yang dirasa perlu, seperti ruang keluarga, kamar tidur tambahan, ruang makan, dan dapur. Di belakang rumah tetap disisakan sebagian kecil tanah, untuk dibuat menjadi taman. Di bagian samping rumah pun dibuat sebuah taman kecil yang diisi kolam. Taman ini juga berfungsi untuk memasukkan sinar matahari dan udara ke dalam rumah.

Renovasi yang dimulai bulan Januari 2006 lalu, selesai cukup cepat, yaitu bulan Maret 2006. Selama rumah mereka direnovasi, keluarga muda ini terpaksa mengungsi ke rumah orang tua di daerah Taman Mini. Dengan perluasan ruang yang cukup banyak tersebut, otomatis sang anak bisa mendapat sebuah kamar tidur sendiri yang terletak di sebelah ruang tamu, juga ruang bermain sang anak bisa lebih banyak lagi.

Tak Puas dengan Pilihan Kontraktor
Awalnya, pasangan ini ingin menggunakan jasa kontraktor yang ditawarkan pada mereka lewat temannya. Namun mereka tak puas dengan kotraktor tersebut. Pasalnya, harga yang ditawarkan jauh melebihi dana renovasi mereka. Selain itu, material bangunan yang dipilih oleh sang kontraktor pun tidak sesuai dengan keinginan mereka. Mereka pun hanya menggunakan jasa sang kontraktor untuk membuat sebuah gambar kerja dari gambaran kasar yang dibuat oleh Jhony. Untuk pembangunan, mereka menyerahkannya pada tukang.

Maria dan Jhony berburu sendiri ke toko-toko bangunan untuk membeli material yang sesuai dengan keinginan mereka, baik dari segi kualitas maupun model dan warna. Alhasil, biaya renovasi dapat ditekan hingga menjadi kurang lebih Rp 100 juta. Dengan biaya sejumlah itu, pasangan ini sudah mendapatkan material yang berkualitas bagus dan juga jasa tukang, yang berjumlah 8 orang.

Ganti Tahun, Ganti Warna
Dinding depan rumah mereka yang sebelumnya berwarna hijau tua, diubah menjadi warna terakota. Perubahan warna ini berdasarkan keinginan sang ibu rumah tangga, yang merasa bosan dengan warna rumah mereka. “Sekalian renovasi, maka saya sekaligus mengubah warna tampak depan bangunan. Lagi pula, kan ganti tahun, ganti warna juga, dong,” ujar Maria. “Namun sebenarnya saya ingin yang lebih ke warna bata, tapi hasil dari cat yang saya beli jadinya lebih ke warna coklat,” tambah Maria dengan nada agak kecewa.

Untuk interior rumah, Maria memutuskan untuk menggunakan warna kuning, sesuai dengan sofa yang sudah dimiliki olehnya. Selain itu, warna ini dipilih juga agar sesuai dengan pernak-pernik bunga matahari yang merupakan kegemarannya.

Thursday, June 12, 2008

Pintu Ukir untuk Gerbang

Luas lahan yang besar memberikan keleluasaan dalam pengorganisasian ruang. Contohnya adalah dua rumah berikut ini. Karena luas lahan cukup memadai, maka di antara bangunan utama dan halaman dibuatlah sebuah semacam foyer/area transisi. Wujudnya berupa halaman kecil sebelum memasuki bangunan utama.

Untuk memisahkan area transisi dengan bagian luar rumah, dibuatlah semacam gerbang. Gerbang ini juga berfungsi menegaskan batas privasi antara bagian luar rumah dan bagian dalam rumah. Pintu kayu dengan ukiran etnik bisa digunakan sebagai daun pintu dari gerbang ini.

Pada foto pertama, pintu kayu yang digunakan memiliki ornamen ukiran ala Bali. Finishing-nya menggunakan cat duco warna merah dengan aksen cat emas pada ukirannya. Sementara pada rumah kedua, daun pintunya dibiarkan polos. Sebagai paduan yang serasi dipilihlah bata ekspos sebagai bahan baku dindingnya.

Monday, May 12, 2008

Cara Praktis Membuat Rumah Usaha

Berawal dari sering merancang baju sang mertua, akhirnya Anita membuka usaha mendesain pakaian wanita. Menantu dari pemain sinetron Ida Kusumah ini memang lulusan sekolah desain Susan Budiharjo. Setelah lulus, Anita mulai merancang baju-baju untuk Ida Kusumah, dan hasil rancangan yang dikenakan sang mertua itu banyak disukai teman-teman sesama artis. Akhirnya, berkat dukungan dari sang mertua, pada tahun 2003 Anita mulai membuka jasa menjahit di Serpong.

Selain menerima jahitan, Anita juga melayani jasa konsultasi bagi orang yang masih bingung dengan baju yang akan dikenakan pada suatu acara. Untuk itulah Anita memerlukan ruangan yang luas untuk menerima tamu atau pelanggannya. Langganannya kini sudah cukup banyak; tapi kadang-kadang mereka lebih suka Anita yang datang ke rumah mereka untuk mengukur dan mengepas baju.

Memindahkan Dapur, Membongkar Kamar
Rumah yang terletak di Villa Melati Mas ini, awalnya memiliki dua kamar tidur dan dapur yang terletak di bagian depan rumah. Susunan ruangan seperti ini membuat Anita tidak leluasa mengerjakan pekerjaannya. Oleh karena itu dia memutuskan untuk merombak rumahnya, dari dua kamar mejadi satu kamar. Selain itu, dapur yang terletak di depan dipindahkan ke bagian belakang.

Ruangan bekas kamar tidur ini digunakan Anita sebagai ruangan untuk mendesain dan berkonsultasi dengan pelanggannya. Agar ruangan tak terlihat penuh dan berantakan, Anita hanya meletakkan sebuah meja kaca dan dua buah kursi. Di kanan-kirinya terdapat contoh-contoh pakaian rancangannya.

Ruangan yang awalnya dapur kini dimanfaatkan untuk menerima tamu sekaligus memajang karya-karyanya yang merupakan pesanan kliennya. Biasanya karya yang dipajang di sini adalah karya yang unik dan tidak biasa.

Memanfaatkan Tanah Sisa
Jumlah pekerja yang kini dimiliki oleh Anita lebih kurang 15 orang, termasuk tukang jahit dan tukang bordir. Namun, mereka masih bekerja di tempat yang terpisah dari rumah Anita. Ini karena rumah sang perancang saat ini belum memungkinkan untuk dipakai sebagai workshop.

Karena itu, ke depannya Anita ingin memanfaatkan tanah sisa yang cukup luas di rumahnya menjadi sebuah workshop. Sehingga jika ada pesanan, Anita tak perlu lagi repot membawanya ke workshop yang terpisah dari rumahnya.

Membuat Wajah Rumah Tampak Bersih

Berkat anaknya yang kuliah di jurusan arsitektur, Rusmiati Laing dan Ahmad Laing akhirnya bisa merenovasi tampak depan rumah mereka dengan biaya minim, tapi tetap mendapatkan hasil maksimal.

Pasangan Ambon-Palembang ini sangat ingin merenovasi tampak depan rumahnya. Namun, mereka tak memiliki ide yang tepat. Mereka mengonsultasikan hal ini dengan anak mereka yang kebetulan mengambil jurusan Arsitektur dan sedang senang-senangnya mendesain. Akhirnya didapatlah ide yang tepat dan cocok dengan keinginan mereka. Renovasi mereka lakukan tahun 2003, bersamaan dengan penggantian keramik interior rumah. Biaya yang mereka habiskan untuk renovasi ini pun tak banyak, lebih kurang Rp 14 juta.

Penyederhanaan Tampak
Setelah direnovasi, tampak depan rumah Rusmiati sebenarnya tak terlalu banyak berubah. Hanya saja tampak depan dulu memiliki lebih banyak ornamen yang membuat rumah mereka tampak sumpek. Pagar yang berukir dan bentuk pintu-jendela yang terkotak-kotak terlihat kurang serasi. Hal itu juga membuat tampak depan rumah terlihat tidak rapi. Rusmiati ingin tampak depan rumah mereka lebih simpel dan selaras. Akhirnya, saat mereka mengganti keramik bagian dalam rumah dimulailah renovasi itu.

Agar jalan di depan rumah terlihat menyatu dengan halaman, dibuat ramp yang menutupi bagian atas selokan yang tepat berada di depan rumah mereka. Hal ini juga membuat halaman rumah terlihat lebih luas. Carport yang semula hanya bisa menampung satu mobil sudah tak bisa memenuhi kebutuhan mereka, karena itu taman pun dipangkas setengahnya untuk dijadikan carport yang lebih luas. Carport ini bisa dijadikan tempat mengobrol saat tidak ada mobil. Di bawah jendela depan rumah sengaja dibuat semacam tempat duduk kecil untuk tempat bersantai. Taman tetap dipertahankan dengan sisa tanah yang ada untuk menjaga agar rumah tetap terlihat asri. Karena taman lebih menyempit, ibu satu ini pun menggunakan pot-pot tanaman agar bisa menghemat tempat.

Jendela yang semula terkotak-kotak oleh pengusaha properti ini diubah menjadi jendela biasa yang sederhana. Bukaannya diubah dari bukaan ke depan menjadi ke samping. Ini karena bukaan ke depan dirasa kurang maksimal memasukkan udara. Pagar diubah menjadi pagar simetris yang sederhana.

Material yang “Bersih”
Awalnya, di bagian depan rumah ini akan dibuat semacam tirai air yang mengalir dari atas melewati dinding hingga ke bawah. Agar suasananya lebih asri, dipilih dinding yang terletak di depan taman. Akan tetapi, karena terbentur waktu dan biaya, tirai air pun batal dibuat. Agar dinding tidak kosong, sang anak mengusulkan menempelkan keramik di dinding. Keramik pun ditempelkan secara diagonal agar terlihat berbeda. Penggunaan keramik berwarna cerah membuat dinding tampak bersih. Untuk membersihkannya pun lebih mudah dibandingkan jika dinding hanya dicat.

Selain itu, carport yang luas diberi finishing keramik warna terang sehingga terlihat bersih dan cerah. Dengan penggunaan warna cerah ini, carport juga terlihat lebih luas.

Pintu Masuk Pejalan Kaki
Pagar yang baru dibuat sedikit lebih rendah dari pagar lama. Ini karena mereka ingin rumahnya memberi kesan welcome kepada para tamu yang berkunjung. Mereka juga tak menutup pagarnya dengan fiberglass agar tidak mengganggu keindahan desain pagar.

Pintu gerbang yang terletak di bagian depan carport sering tidak bisa digunakan untuk masuk keluar penghuni dan tamu karena panjang mobil terlalu mepet dengan pagar. Oleh karena itu, dibuatlah sebuah pintu kecil di depan taman yang khusus digunakan untuk akses penghuni dan tamu.