Showing posts with label Interior. Show all posts
Showing posts with label Interior. Show all posts

Wednesday, February 4, 2009

Mengatur Cahaya di Kamar Tidur

BUKAN hanya warna yang bisa menciptakan mood. Tata cahaya juga bisa membuat mood Anda lebih baik, atau malah lebih buruk. Kamar tidur sebagai tempat beristirahat, tentu perlu mendapat perhatian.


Pencahayaan yang pas, tentu akan membuat kamar tidur semakin nyaman. Untuk mengatur intensitas pencahayaan, bisa menggunakan dimmer. Dengan dimmer, Anda juga bisa menghemat listrik dari penggunaan lampu.

Ada beberapa jenis pencahayaan yang bisa diterapkan pada kamar tidur :

General lighting. Dengan jenis pencahayaan ini, ruangan mendapat pencahayaan merata. Biasanya sumber cahayanya berasal dari lampu yang dipasang pada plafon. Jenis cahaya ini dipergunakan untuk kegiatan yang bersifat umum.

Task lighting. Pencahayaan ini hanya menyorot pada objek tertentu. Seperti pada meja nakas, stereo set, atau rak dalam lemari pakaian. Dapat juga dipergunakan untuk menyorot bahan bacaan saat ingin membaca di tempat tidur.

Accent lighting. Pencahayaan yang satu ini berfungsi untuk menimbulkan mood tertentu. Nah, tipe cahaya yang ini dapat memberikan kesan romantis.

Menyatukan Dapur dan Ruang Makan

BAGI mereka yang menyukai segala sesuatu yang bersifat ringkas dan praktis, dapur berkonsep bar bisa dicoba. Dapur seperti ini identik dengan kesan ringkas. Mengolah, memasak, dan menyajikan makanan dilakukan dalam satu area.

Keberadaan meja bar adalah ciri khas dapur ini. Konsep bar biasanya diaplikasikan pada dapur berbentuk "U". Namun, dapur berbentuk "L" pun bisa dipadukan dengan meja bar. Cukup letakkan meja bar pada salah satu sisi dapur.

Konsep demikian bisa menjadi solusi menggabungkan dapur dan ruang makan. Meja bar, bisa dimanfaatkan sebagai tempat menyajikan sekaligus menyantap makanan. Tidak perlu membawa dan menata hidangan pada ruangan terpisah. Selain menghemat lahan, juga menghemat waktu penyajian.

Untuk Anda yang sudah memiliki ruang makan, tak ada salahnya juga jika ingin memiliki dapur dengan konsep bar. Meja bar bisa dimanfaatkan sebagai meja sarapan (breakfast table), atau meja tambahan untuk menjamu tamu yang kebetulan datang. Agar fungsinya maksimal, lengkapi meja bar dengan kursi bar atau bar stool. Desain dan warnanya sekaligus dapat menjadi askesori menarik.

Ruang Keluarga Modern dan Maskulin

RUANG keluarga dilengkapi dengan sofa L enam dudukan. Warnanya cokelat tua. Dipilih untuk memunculkan kesan hangat dan nyaman. Warna sofa ini dibuat senada dengan warna coffe table.

Biasanya gaya maskulin, tidak menggunakan banyak bantal pada sofa. Namun, agar ruangan tidak berkesan monoton, ditambahkanlah bantal pada sofa. Permainan berbagai motif, seperti motif garis dan sisik ikan, tampil pada penataan bantal. Pilihan warna dan motif bantal juga dibuat selaras dengan warna furnitur.

Pada sudut ini, warna ruangan dibuat bergradasi dari warna terang ke gelap. Putih pada dinding, cokelat pada furnitur, dan hitam pada beberapa bantal. Setiap benda yang ada dalam ruangan, mewakili warna-warna dalam deretan gradasi. Sehingga tampilannya tetap rapi, walaupun ada beberapa motif yang sengaja "ditabrakkan".

Sebagai aksen ruangan, ada beberapa lukisan kain. Lukisan tersebut sebenarnya terbuat dari kain-kain bahan upholstery (penutup sofa). Ide kreatif ini bisa menjadi alternatif. Terutama jika Anda kesulitan mendapatkan hiasan dinding yang pas dengan ruangan. Lukisan kain ini juga bisa disesuaikan dengan warna dan motif furnitur.

Sunday, February 1, 2009

Sentuhan Etnik pada Foyer Futuristik

BOSAN dengan penataan ruang yang biasa-biasa saja? Sesekali tak ada salahnya mencoba sesuatu yang berbeda. Menyandingkan elemen tradisional dengan elemen modern pada satu ruangan, misalnya. Bisa menjadi sesuatu yang pantas dicoba.

Sebagai gambaran, Anda bisa melihat foto foyer di samping. Dominasi warna keperakan (silver), seharusnya menjadikan foyer ini tampil modern futuristik. Namun kesan tersebut berubah dengan "kehadiran" sebuah artwork bergaya etnik di atas buffet.

Artwork kerajinan khas Toba, Sumatera Utara, tersebut memberikan sentuhan tradisional pada foyer. Hasilnya, dua gaya yang bertolak belakang tersebut, tampil sama-sama menarik. Dominasi warna silver dari buffet dan bingkai lukisan, justru menonjolkan keunikan artwork bergaya etnik tersebut.

Sedangkan sentuhan tradisional dari artwork yang sepintas tampak kecil dan sepele, dapat menyeimbangkan tampilan ruangan. Bayangkan jika artwork tersebut tidak ada. Tampilan foyer bisa jadi tampak kaku dan dingin. Oleh karena itu, foyer membutuhkan sedikit "kehangatan" yang dihadirkan oleh artwork bergaya etnik tadi.

Monday, July 7, 2008

Duduk Hangat dengan Cokelat

Sisa lahan seluas 1,5mx1,2m dimanfaatkan sebagai ruang duduk. Meski berada di area sempit, penataannya tetap diperhatikan. Agar nyaman dan terasa hangat, warna cokelat diaplikasikan.

Untuk membuat sebuah ruang duduk, tidak banyak furnitur. Di sini cukup diletakkan sebuah single sofa, dan sebuah meja aksen. Agar lebih nyaman, lengkapi sofa dengan penopang kaki. Agar sembari duduk, Anda bisa meluruskan kaki. Ada sofa yang sudah dilengkapi dengan penopang kaki. Tetapi Anda juga bisa memanfaatkan puff berbentuk kotak atau bulat. Pilih yang berwarna dan motif senada dengan sofa.

Aplikasi kombinasi tema warna cokelat diterapkan pada sofa. Warna cokelat muda dipilih untuk sofa. Sedangkan puff kotak berwarna cokelat tua, dan bermotif bunga. Sama seperti warna dan motif bantal.

Tidak banyak aksesoris di sudut ini. Untuk mempermanis tampilan ruang, ditempatkan sebuah vas bunga. Lengkap dengan bunga artifisial berwarna merah muda. Warna bunga sekaligus memberi kesan lebih ceria pada ruangan.

Anda bisa memanfaatkan ruang duduk yang mungil ini untuk beberapa saat menikmati kesendirian. Bersantai sejenak, membaca majalah, atau mendengarkan musik.

Saturday, July 5, 2008

Tiruan yang Tak Kalah Antik

Furnitur antik hasil ulang atau repro banyak ditemui di Jakarta dan kota-kota besar lain. Keberadaannya berawal dari permintaan masyarakat yang tinggi pada furnitur antik. Karena kursi, lemari, meja, dan furnitur antik lain semakin sulit didapat. muncullah permintan furnitur antik repro.

Harga furnitur antik memang selangit. Sebuah lemari antik yang asli itu ada yang sampai puluhan hingga ratusan juta rupiah. Bandingkan dengan yang repro, hanya sekitar Rp10juta - Rp15juta, atau yang ukuran kecil lebih murah lagi, Rp1juta - Rp2jutaan. Tentu tergantung ukuran dan model.

Kini furnitur antik repro makin banyak dilirik konsumen. Pertama, karena harganya yang miring. Kedua, kualitas dan tampilannya tidak kalah menawan dibanding yang asli. Walau begitu, Anda harus jeli memilih. Tak jarang penjual furnitur repro meyakinkan Anda bahwa barang itu antik asli. Padahal kan sebaliknya.

Bagi kalangan yang mengidamkan furnitur berdesain antik, kehadiran furnitur repro tidak terlalu dipersoalkan. Yang penting adalah tampilan yang mendekati aslinya. Persoalannya adalah bagaimana memilihnya agar tidak terkecoh.

Sebenarnya, yang asli dan yang repro dapat dibedakan dari berbagai segi. "Dari segi harga, furnitur repro mempunyai standar rentang harga tertentu, sedangkan yang antik mengikuti selera dan kelangkaan barang," jelas Suryadarma, pembuat sekaligus pedagang furnitur repro di Tirta Kencana Art Shop Ciputat, Jakarta Selatan.

Yang agak sulit adalah membedakan tampilan fisiknya. Ketika menyambangi toko furnitur antik, umumnya kita terkecoh dengan tampilan furnitur repro. Memang hal ini bisa terjadi karena sebagian besar material furnitur repro berasal dari kayu-kayu tua. Dengan sedikit sentuhan, material-material digabungkan menjadi sebuah lemari atau kursi bergaya antik.

Jika tak ingin terkecoh, Anda harus betul-betul mengenal bentuk furnitur antik yang asli. Namun jika Anda menyukai furnitur repro, tak masalah dengan keberadaannya itu, bukan? Hanya pastikan Anda pintar menawar.

Friday, July 4, 2008

Rak Kayu Bernuansa Tradisional

Rak di dapur harus fungsional. Membuat rak seperti ini tak suilt sebetulnya. Yang penting sesuaikan material dan tampilannya dengan konsep desain dapur secara keseluruhan. Yang sederhana bisa menggugah selera.

Kayu menjadi elemen penting dalam menghadirkan dapur alami yang bernuansa tradisional. Warna kayu yang kecoklatan umumnya dipertahankan untuk memberikan kedua kesan itu.

Lemari dapur di samping ini terbuat dari kayu yang warnanya kecoklatan. Warna ini diaplikasikan untuk memberikan kombinasi warna yang cantik antara warna hijau pupus yang juga ada pada dapur ini.

Tanpa pintu, lemari atau yang bisa juga disebut rak ini memiliki empat sekat horizontal yang memiliki ketinggian berbeda. Ini menjadikan rak lebih dinamis dan dapat dipergunakan untuk menyimpan makanan dalam kardus, botol minuman atau bumbu, yang memiliki bentuk dan ukuran berbeda.

Misalnya, sekat bawah difungsikan sebagai tempat bumbu dapur, saus, ataupun wadah penyimpan yang rendah. Sekat tengah merupakan sekat yang paling tinggi. Cocok untuk meletakkan kemasan besar juga tinggi, seperti botol kecap (besar), ataupun hiasan. Sisi teratas cocok untuk meletakkan kemasan karton, bukan kaca. Ini mengingat resiko jika kita mengambil benda ataupun perabot di posisi tinggi.

Thursday, July 3, 2008

Hangatnya Tempat Tidur Etnik

Apa yang diperlukan kamar tidur bukanlah sekadar ranjang dan lampu temaram. Itu jika kita hendak membuat kamar tidur sebagai ruang istirahat, yang bukan sekadar tempat tidur. Kamar tidur dapat dibangun dalam suasana yang dekat dengan kesukaan dan kecintaan pemiliknya. Dengan begitu, setiap kali ke kamar ada perasaan "pulang" kembali ke peraduan.

Tampaknya hal itulah yang diniatkan benar oleh pemilik kamar tidur ini. Aksen etnik plus antik hadir dengan apik karena kedua unsur itu adalah kecintaan pasangan suami-isteri sejak lama.

Ranjang tua dari kayu jati buatan tangan-tangan terampil seolah menyapa dengan hangat berkat sentuhan bed sheet yang serasi. Jendela terbuka di sisi kiri ranjang menerbangkan bau harum dedaunan dari taman samping rumah.

Kamar tidur ini memilih organisasi ruang yang linear. Pintu dua daun menjadi akses ke ruang tidur yang terdiri atas tiga area. Ketiganya adalah area tidur, area mandi dan berdandan, serta area kerja (kini difungsikan sebagai tempat ganti pakaian dan kamar tidur tambahan).

Masing-masing area mempunyai bukaan jendela yang cukup sehingga lumayan terang tanpa bantuan lampu sekalipun. Hanya bagian lorong yang agak temaram. Hal ini teratasi oleh penggunaan penerangan buatan.

Tentu saja tidak seluruh ruang tidur harus berlanggam etnik dan antik. Kamar mandi tetap menggunakan material modern, misalnya shower dan bath up. Demikian pula dengan lantai yang menggunakan marmer coklat muda. Finishing seluruh furnitur yang menggunakan warna pelitur natural menambah kesan hangat pada ruangan.

Wednesday, July 2, 2008

Panduan Pilih Furnitur Repro

Memilih furnitur repro gampang-gampang susah. Panduan ini mungkin bisa membantu Anda.

1. Kenali motif-motif asli furnitur. Cari furnitur yang memiliki motif mirip aslinya. Modifikasi motif biasanya terlihat pada ornamen dekoratif dan bentuknya.
2. Amati mutu kayu. Pilih yang menggunakan bahan kayu keras, seperti kayu jati.
3. Perhatikan engsel dan kunci pintu. Pastikan kondisinya masih baik dan mirip aslinya.
4. Lihat kualitas finishing. Kesempurnaan finishing akan terlihat dari penampilan fisik furnitur.

Kesan Luas Warna Abu-abu

Dapur mungil yang didesain dengan model U ini terletak di antara ruang garasi dan area servis. Dapur tanpa sekat terhadap ruang makan. Hasilnya, ruang optimal sekaligus tetap enak dilihat.

Fokus utama adalah area mencuci. Kabinet berpintu kaca buram berada tepat di tengah kitchen set. Berfungsi sebagai rak pengering piring, area ini dilengkapi dengan sink satu lubang. Selain hemat ruang, lubang bassin berukuran 60 cm x 70 cm itu cukup praktis dipasang di area terbatas.

Kitchen set dipilih dalam dominasi warna abu-abu muda dengan lis kabinet berwarna gelap. Gradasi warna kelabu dikombinasikan dengan warna granit hitam pada permukaan meja kerja. Tampak serasi.

Area memasak diposisikan menghadap ke luar rumah. Sebuah jendela yang menghadap ke garasi terpaksa ditutup sebagian dengan kabinet gantung. Maksimalisasi ruang ini tidak mengganggu fungsi jendela sebagai jalur sirkulasi udara.

Kabinet yang terletak di sudut ruang kadang sukar difungsikan. Oleh sang desainer, kabinet itu lalu dibuat berpintu lipat agar fungsinya maksimal.

Dapur dengan ruang terbuka ini memungkinkan perolehan pencahayaan tambahan dari ruang-ruang di sekitarnya. Hanya dengan satu titik lampu membuat dapur cukup terang.

Begitu pula dengan sirkulasi. Cookerhood dan sepasang pintu yang saling berhadapan di area dapur membuat udara tidak pengap dan senantiasa selalu kering.

Thursday, June 12, 2008

Ruang Tamu Bergaya Country

Gaya penataan ruang tamu mengadaptasi gaya rumah-rumah pedesaan Amerika dan Australia. Banyak terdapat pajangan berupa bingkai, digantung di dinding. Selain itu, banyak pula pernak-pernik bermotif bunga (floral).

Ruang tamu berada di ruangan berukuran kira-kira 3mx3m. Warna hijau diaplikasikan untuk memberikan kesan alami dan sejuk. Selain dari warna ruangan, nuansa alami juga diperkuat dengan adanya beberapa tanaman pot.

Di ruang tamu terdapat dua buah sofa, masing-masing satu dan tiga dudukan. Dilengkapi dengan satu coffee table, dan satu buah lemari pajangan. Semua furnitur bernuansa hijau. Agar senada dengan warna ruangan.

Lemari pajangan diletakkan menyerong di salah satu sudut ruangan. Di dalamnya berisi banyak piring keramik bermotif bunga. Karena berpintu kaca, pajangan di dalamnya bisa terlihat jelas. Lemari berbahan kayu dan berkesan antik. Dicat ulang dengan cat kayu berwarna hijau.

Coffee table bergaya etnik dan antik. Terbuat dari kayu dan di sekelilingnya berhiaskan ukiran. Di salah satu sisi dinding, terdapat susunan bingkai bergambar nuansa alam dan bunga. Pajangan-pajangan bergambar bunga atau alam, merupakan salah satu ciri gaya country.

Di sisi lain dinding, juga masih terdapat susunan bingkai yang berisi foto keluarga. Setiap foto dibingkai terpisah. Pemasangan foto seperti ini, memberi kesan bahwa setiap momen kebersamaan keluarga adalah momen penting.

Wednesday, June 11, 2008

Kamar untuk ABG Pencinta Olahraga

Anak usia 9—12 tahun lazimnya sedang gandrung pada hal yang berbau olahraga. Mereka kerap mengidolakan bintang olahraga, mengoleksi poster, stiker, dan segala macam yang menyangkut olahraga favoritnya.

Nah, kecintaannya pada olahraga dapat diwadahi dengan menciptakan kamar yang sporty. Menempel poster atau menghadirkan pernak-pernik olahraga di kamar adalah salah satu contohnya. Atau bisa juga dengan cara membuat mural di dinding dengan gambar cabang olahraga yang diminatinya. Berbeda dengan kamar sebelumnya, mural pada kamar ini memenuhi salah satu dinding kamar.

Yang perlu diingat, mural seperti ini bisa membuat kamar terlihat ramai dan padat. Karenanya, jangan gunakan warna yang gelap untuk dinding lainnya. Kalaupun ingin menggunakan warna gelap, gunakan hanya sebagai aksen.

Kamar Cewek Nggak Harus Pink

Kamar yang dirancang untuk anak perempuan ini didominasi hijau pupus. Warna ini diterapkan di berbagai elemen, seperti dinding dan seprai. Agar lebih menarik, salah satu dinding diberi wallpaper bermotif garis. Gorden pun diberi motif kotak-kotak.

Walaupun tidak mendominasi, penggunaan motif di sebuah ruangan bisa menimbulkan kesan tertentu. Motif garis vertikal membuat ruang terasa lebih tinggi. Namun jika garis-garisnya terlalu banyak dan rapat, akan membuat ruang terasa lebih sempit. Sebaliknya, motif garis horizontal akan menimbulkan kesan rileks, ruang terasa lebih luas tapi sekaligus juga membuat ruang terasa rendah. Sedangkan motif garis lengkung terlihat dinamis dan bergerak.

Jangan memadukan terlalu banyak motif karena akan membuat anak bingung dan sulit untuk beristirahat. Namun jangan juga menggunakan motif yang sama di seluruh elemen ruangan, karena hanya akan menimbulkan kesan monoton. Yang paling baik untuk kamar tidur adalah motif-motif sederhana seperti garis lurus atau bunga-bunga.

Sesuaikan juga motif dengan luas ruangan. Ruang yang sempit sebaiknya jangan menggunakan motif-motif yang berukuran besar karena akan memenuhi ruang. Sebaliknya, motif kecil di ruangan yang besar akan terlihat “hilang”.

Kamar Biru? Siapa Takut

Warna biru kadang dibilang warna sendu. Tetapi, kalau ditanya warna apa yang jadi favorit, kebanyakan ABG mungkin menjawab “biru”. Memang biru seringkali jadi warna kebangsaan mereka, terutama anak laki-laki yang tak ingin dibilang feminin.

Dari segi efek, warna biru muda bisa membuat si penghuni sejuk dan rileks. Warna biru tua seperti biru laut bisa membangkitkan imajinasi, menimbulkan perasaan tenang serta meningkatkan sensitivitas. Sedangkan warna biru muda (biru pucat) memberikan kesan ringan, tenang, dan tenteram. Karena sifat-sifatnya itu, warna biru dianggap cocok untuk diterapkan di kamar tidur anak.

Lalu, apakah semua unsur di kamar harus berwarna biru? Jika warna yang digunakan di seluruh elemen cuma satu tone warna biru (misalnya hanya biru primer atau hanya biru laut), anak akan merasa cepat bosan. Kombinasikanlah berbagai warna biru untuk mendapatkan hasil yang lebih menarik.

Contoh satu lagi hanya mengaplikasikan biru di salah satu sisi kamar. Dinding yang dipilih adalah dinding yang jadi point of interest, biasanya dinding yang ada di belakang kepala tempat tidur. Elemen-elemen lainnya seperti tempat tidur, seprai dan gorden, walaupun sedikit tetap masih memiliki unsur biru.

Formal Tetapi Nyaman

“Ruang keluarga adalah ruang tamu informal yang biasanya diletakkan di dekat dapur. Berbagai aktivitas keluarga dapat ditampung di sana, antara lain menonton TV, bercakap-cakap, makan, dan bersantai. Seringkali, ruang keluarga memiliki hubungan dengan ruang luar seperti taman atau teras.” Inilah definisi yang tertera di Wikipedia.

Kalimat pertama pada definisi tadi menegaskan bahwa ruang keluarga adalah ruang yang mesti tampil informal, tidak kaku, dan terkesan santai. Namun bagi B. J. Susilo, seorang desainer interior, ruang keluarga bisa dibuat lebih formal tapi tetap bisa mengakomodir kegiatan anggota keluarga.

Kesan formal pada ruang keluarga, bisa diciptakan dari pilihan furniturnya, seperti contoh kasus di sini. Rangka, lengan, dan sandaran sofa dibuat dari kayu dengan garis-garis tegas. Dominasi kayu pada sofa memang bisa menjadikannya terlihat kaku. Karenanya, untuk menimbulkan kesan santai, para desainer memilih sofa yang seluruhnya dilapisi upholstery dari bahan lembut.

Di balik kesan kaku, ada keuntungan memakai furnitur dari kayu. Kayu tampak alami namun mudah dibentuk tipis, sehingga furnitur jadi tampak ramping, ringan, dan tidak membuat ruang terasa penuh.

Lengkap dan Nyaman
Ruang keluarga ini biasanya digunakan untuk mengobrol, membaca, dan menikmati teh di sore hari. Kegiatan menonton TV juga bisa dilakukan jika ruangan TV di atas tidak digunakan.

Sang desainer berusaha untuk mengakomodir semua kegiatan itu, tentunya dengan tetap mengutamakan kenyamanan. “Sedikit formal bukan berarti tidak nyaman,” tukas Susilo. Untuk kegiatan mengobrol misalnya, sofa-sofa diletakkan dengan jarak yang tidak terlalu jauh sehingga suara yang dikeluarkan bisa didengar lawan bicara. Si pengguna bisa tetap duduk dengan tenang, dan tak mesti memajukan badan saat mengobrol. Jarak yang tidak terlalu jauh ini juga bisa menimbulkan interaksi yang lebih kuat di antara anggota keluarga.

Contoh lainnya adalah pada ketinggian dan lebar sofa. Dudukan sofa dibuat lebih lebar, dan kaki dibuat lebih pendek daripada sofa biasa. Menurutnya, dengan cara ini orang bisa duduk lebih santai dan nyaman. Kaki pun bisa dijulurkan ke depan atau nangkring di atas meja.

Menangkap View
Alexander Christoper (dalam buku The Timeless Way of Building) menulis, di dalam ruang keluarga atau ruang duduk, ada 2 hal yang membuat orang tetap pada tempatnya. Pertama adalah cahaya. Pada dasarnya, manusia punya keinginan dan kecenderungan untuk bergerak ke arah cahaya (photoprenic). Ini terbukti saat di dalam kegelapan manusia akan berusaha membuat lingkungannya terang.

Kedua adalah ia duduk di tempat yang nyaman. Nah, jika kedua hal ini terwujud, dijamin ia akan sangat nyaman berada di ruang keluarga dan enggan beranjak dari sana.

Hal tadi dipraktikkan oleh Susilo. Selain membuat sofa yang nyaman, ia membuat jendela untuk menangkap cahaya sebanyak-banyaknya dari luar. Jendela yang merangkap sebagai pintu ini juga bisa meloloskan pemandangan dari halaman belakang. Alhasil, ruangan terasa lebih luas, lebih terbuka, dan lebih nyaman.

Enaknya Ruang Tamu Terbuka

Bila akan membangun sebuah rumah, alangkah baiknya bila ditentukan terlebih dulu kebutuhan dasar ruangannya. Setelah itu baru ditentukan peletakan ruangnya.

Inilah yang dilakukan Abud Budiman, yang membutuhkan satu ruang yang berfungsi untuk menampung teman-temannya yang datang berkunjung ke rumahnya. Berangkat dari ide seperti ini kemudian Abud membangun rumah di atas tanah kavling yang dibelinya sekitar tahun 2004. Abud merancang rumahnya sendiri dengan mengutamakan ruang tamu yang terbuka dan seolah-olah menyatu dengan ruang luar.

Ruang tamu ini dibuat tanpa ada bukaan berupa pintu dan minimnya penyekat antara ruang tamu dengan bagian luar rumah. Penyekat antara ruang tamu dengan ruangan luar rumah hanya terbuat dari dinding setinggi lebih kurang 3 m. Bagian atas dinding tidak menyatu dengan plafon rumah, sehingga seolah-olah dinding ini merupakan partisi ruangan.

Ide dasar mengapa ruangan tamu dibuat seperti ini adalah Abud hanya menginginkan ruang tamu ini tampak lega saja. Dengan lahan yang terbatas, Abud berusaha membuat ruang tamu tidak sempit. Tidak adanya pintu, menurut Abud, lantaran dia tidak mau repot harus membuka pintu terlebih dulu ketika ada tamu yang datang.

Perbedaan Level
Untuk menambah kesan rumah ini tidak sempit, Abud juga meninggikan level permukaan tanah sehingga ada perbedaan dengan level permukaan jalan. Hal ini mengingat lebar tanah bagian depan hanya 6 m2.

Perbedaan level ini juga membuat Abud mudah menata taman yang ada di depan rumahnya. Tanaman yang ada ditata untuk membuat teduh bagian depan rumah sehingga tanaman ini bisa menjadi penangkis sinar matahari ketika sore hari.

Memulai Hemat Energi dari Dapur

Penghematan energi memang sudah menjadi hal yang patut diperhatikan. Apalagi pemerintah sudah mengeluarkan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 10 Tahun 2005 tentang Penghematan Energi. Melalui inpres itu, Anda harus mulai menghemat energi dalam bentuk apa pun, termasuk penggunaan di dalam rumah. Bagaimana caranya?

Anda bisa memulainya dari dapur. Sebagaimana kita ketahui, dapur merupakan ruang pengolahan bahan makanan yang digunakan setiap hari. Pengolahan bahan makanan tersebut memerlukan air, api, listrik, gas, dan bahan bakar lain. Karena itu, kebutuhan energi terbanyak di dalam rumah ada di dapur. Penggunaan peralatan, sumber daya, dan bahan bakar yang efisien pada akhirnya dapat menghemat penggunaan energi dan biaya secara menyeluruh.

Sebenarnya, hanya diperlukan langkah-langkah sederhana untuk menghemat penggunaan energi di dapur, di antaranya adalah sebagai berikut.

1. Pastikan area dapur memiliki bukaan ventilasi berupa jendela minimal 20 persen dari luas lantai. Pemanfaatan cahaya matahari yang optimal dapat menghemat energi karena meminimalisasi penggunaan lampu.

2. Dapur juga sebaiknya memiliki pencahayaan buatan yang cukup terang untuk malam hari. Penerangan buatan harus memadai (tidak redup dan tidak silau) untuk melakukan setiap pekerjaan dan melihat perubahan warna makanan. Penerangan yang terlalu redup atau terlalu terang dapat menyebabkan mata tegang dan lelah. Sebaiknya gunakan lampu neon atau fluorescent agar hemat energi.

3.Pada saat memasak, tutuplah panci atau penggorengan untuk mencegah hilangnya panas yang dihasilkan oleh api. Bila panas terbuang, maka bahan bakar yang dipakai juga akan semakin boros dan makanan lebih lama matangnya.

4.Pastikan permukaan bagian bawah wajan atau panci menutupi seluruh coil kompor (nyala api kompor). Jika Anda melihat nyala api muncul dari permukaan sisi bawah atau samping wajan atau panci, ini berarti telah terjadi pemborosan energi. Hal ini dikarenakan pendistribusian panas menjadi tidak efisien. Untuk itu gunakan wajan atau panci yang diameternya lebih besar daripada diameter coil kompor.

5. Saat ini di pasaran banyak dijual peralatan memasak yang multifungsi. Gunakan peralatan tersebut untuk memasak beberapa masakan sekaligus. Misalnya, menanak nasi sekaligus mengukus sayuran atau menghangatkan lauk. Dengan demikian energi yang dipakai terfokus pada satu alat masak.

6. Gunakan peralatan masak yang berbahan dasar tebal dan keras, contohnya teflon. Hal ini bertujuan supaya pendistribusian panas lebih efisien dan masakan lebih cepat matang.

7.Matikan oven atau kompor sebelum masakan benar-benar matang. Biarkan sisa panas yang masih “menempel” pada wajan atau panci yang melanjutkan proses pematangan masakan Anda.

8. Jika akan memanaskan makanan, jangan gunakan microwave melainkan gunakan kompor saja. Pemanasan dengan kompor membutuhkan energi lebih sedikit daripada pemanasan dengan microwave.

9. Gunakan panci tekanan tinggi (jika Anda memilikinya), karena panci jenis ini benar-benar menghemat bahan bakar dan waktu memasak. Sebagai perbandingan, jika menggunakan panci biasa diperlukan waktu lebih kurang 30 menit untuk merebus daging merah, sedangkan dengan panci tekanan tinggi hanya memerlukan waktu 15 menit.

10.Jika Anda memiliki mesin pencuci piring (dishwasher) sebaiknya tunggu hingga dishwasher terisi penuh. Bila mencuci hanya sedikit, selain boros energi listrik, juga boros pemakaian air.

11.Hindari peletakan lemari pendingin berdekatan dengan kompor dan oven. Perbedaan temperatur yang ekstrem dapat mengurangi efesiensi kerja setiap alat sehingga daya yang dibutuhkan akan lebih besar. Hindarkan juga lemari pendingin dari cahaya matahari langsung.

12.Pastikan lemari pendingin tidak penuh sesak oleh makanan. Lemari pendingin yang terlalu penuh menyebabkannya bekerja lebih keras sehingga daya listriknya juga akan boros. Selain itu, biasakan untuk tidak terlalu sering membuka-tutup pintu lemari pendingin. Meskipun tampak sepele, hal ini berpengaruh pada pemakaian energi listrik. Lemari pendingin yang sering dibuka-tutup mengharuskan ia bekerja lebih keras untuk mendinginkan kembali temperatur di dalam lemari es.

Nah, tidak sulit bukan, menghemat energi di dapur?

Ketika Privasi Harus Dikorbankan

Membuka tempat usaha di rumah, sekarang ini banyak dilakukan penghuni rumah, baik perumahan kelas maupun perumahan kelas bawah. Banyak dari mereka beralasan membuka usaha di rumah lantaran tidak terlalu banyak mengeluarkan modal untuk tempat dan bisa mengawasi langsung jalannya usaha.

Terlepas dari sudah ada izin usaha atau belum, ketika Anda berkeinginan membuka usaha di rumah, yang patut Anda perhatikan adalah penataan ruang usaha tersebut. Menurut Heru Wicaksono, seorang konsultan arsitektur, ketika Anda membuka usaha di rumah maka ruang usaha tersebut akan menggeser ruang yang sudah ada sebelumnya. Pergeseran ruang lama dan penempatan ruang baru inilah yang harus disesuaikan dengan kondisi lay out denah rumah agar sirkulasi pengunjung yang datang tidak mengganggu privasi pemilik rumah.

Jenis Usaha Menentukan Kebutuhan Ruang
“Untuk pengaturan dan penempatan ruang untuk usaha, Anda harus melihat dulu jenis usaha yang akan dibuat dan karakteristik pengunjung yang akan datang, termasuk frekuensi dan lamanya waktu mereka berada di tempat usaha,” ujar Prima Haris (desainer interior).

Frekuensi kedatangan pengunjung akan berpengaruh pada letak ruang yang akan digunakan. Katakan seorang pemilik rumah memiliki usaha toko kelontong, fotokopi, warung internet, atau wartel, yang pengunjungnya silih berganti datang dengan cepat. Sedapat mungkin, ruang usahanya dibuat terpisah dari area pribadi pemilik rumah dan aksesnya juga berbeda dengan akses pemilik rumah.

Pemisahan akses ini kadang-kadang dilupakan orang. Kebanyakan yang terjadi, akses pintu masuk ke dalam rumah sama dengan akses menuju ke tempat usaha.

Ruang tamu yang dijadikan tempat usaha, contohnya. Usahakan agar di dalam ruang tersebut dibuatkan lagi akses berupa pintu masuk menuju ke dalam rumah. Pembedaan akses ini bertujuan untuk menjaga privasi Anda supaya tidak terganggu.

Lamanya pelanggan yang datang ke tempat usaha juga harus diperhatikan untuk menentukan kebutuhan ruangnya. Hal ini juga terkait dengan jenis usahanya. Ada jenis usaha yang memerlukan ruang tunggu karena orang yang datang harus mengantri dan membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Sebagai contoh usaha tempat praktik dokter yang membutuhkan dua ruang. Satu untuk ruang praktik dan satu lagi untuk ruang tunggu.

Hal ini berbeda dengan usaha yang tidak memerlukan ruang tunggu, terutama usaha yang skalanya kecil. Umumnya, kebutuhan ruangnya hanya satu yang di dalamnya menampung semua aktivitas yang mendukung kegiatan usaha. Tempat usaha jahit, misalnya. Kebutuhan ruangnya hanya satu, tetapi di dalamnya dipisah menjadi beberapa fungsi ruang seperti ruang jahit dan ruang pamer untuk menyimpan hasil jahitan.

Kelengkapan Lain
Yang patut diperhatikan selain penataan letak ruang adalah penyediaan area pelayanan. Sebagai contoh, usaha praktik dokter harus menyediakan kamar mandi untuk pasien yang datang. Kamar mandi tidak perlu dibuat luas (ukuran 1,75 m x 1,5 m sudah mencukupi), yang penting di dalamnya ada kloset dan wastafel. Letaknya hendaknya tidak di dalam ruang privasi pemilik rumah.

Selain kamar mandi, yang perlu diperhatikan adalah area cuci. Ini khusus untuk jenis usaha tempat makan. Peralatan masak dan piring kotor harus dicuci di tempat terpisah dari ruang usaha.

Dengan mempertimbangkan beberapa hal di atas, tempat usaha Anda setidaknya bisa memberikan kenyaman bagi Anda sendiri ketika menghuni rumah dan juga pembeli yang datang.

Membuat Rumah Usaha Terasa Lega

Pada umumnya, tempat usaha yang ada di rumah mempunyai ukuran ruang yang tidak terlalu luas. Dengan demikian, Anda harus menata interiornya agar ruangan itu tidak tampak sempit. Hal ini bertujuan agar orang yang datang merasa nyaman. Heru Wicaksono, desainer interior, menyarankan, agar ruangan usaha terkesan lega dan tidak kaku maka ada beberapa hal yang bisa dilakukan.

1. Bermain dengan warna
Warna dinding yang menarik akan memberikan kesan nyaman bagi pelanggan yang datang. Selain itu, bermain dengan warna dinding yang tepat akan membuat ruangan menjadi lega. Sebagai contoh, ruang praktik dokter. Usahakan agar salah satu dindingnya bewarna cerah sehingga pasien yang datang merasa gembira meski sedang sakit.

2. Pilih perabot “ringan”
Furnitur—seperti kursi untuk tempat duduk pelanggan—sebaiknya dipilih yang bentuknya tidak terlalu “berat” sehingga ruangan tidak tampak sempit.

3. Pasang cermin di dinding
Cermin lazim dipakai untuk mendapatkan kesan luas pada ruang. Dinding di ruangan yang sempit, bila dipantulkan ke cermin akan membuat kesan dinding tersebut tidak ada batasnya.

4. Pengaturan cahaya
Lampu bisa memberikan kesan ruangan tidak sempit asal arah pencahayaannya ditata dengan tepat. Pemakaian beberapa jenis lampu juga bisa memberikan mood yang baik bagi pelanggan yang datang. Usahakan menempatkan tidak hanya lampu untuk penerangan utama (general lighting) tetapi juga lampu yang fungsinya sebagai penerangan tambahan (decorative lighting atau task lighting).